Tidak Semua Orang ‘Celamitan’ (Buat Trimedya)

By Admin


Oleh: Eko Kuntadhi*

nusakini.com - SEBAGAI Ketua Umum Ganjarist saya kemarin diskusi dengan Trimedya Panjaitan, politisi PDIP, yang juga tim sukses seorang Capres. Di acara Kompas TV dan ILC yang disiarkan via Youtube. Dia mengkritisi banyaknya bermunculan relawan-relawan pendukung Ganjar Pranowo. 

Fokus pertanyaan dia satu: relawan-relawan ini duitnya dari mana? Baginya orang gak mungkin bekerja kalau gak dibayar. Dia gak habis pikir. Sebagai anggota DPR, katanya, dia harus keluarkan duit banyak untuk menjaring suara. 

Kok, ada orang mau bekerja untuk Ganjar Pranowo kalau gak dibayar. Begitu kebingungannya. 

Pertama, Trimedya menilai orang lain dengan kebiasaan dirinya. Ketika dia membayar orang untuk cari suara, dia mikir orang lain sama kayak yang milih dia. Mau menjual murah suaranya saat Pemilu. 

Kedua, Trimedya ini gak ngerti bedanya relawan dan tim sukses. Tim sukses itu bekerja kalau ada duit. Relawan bekerja karena diikat dengan satu visi sama : misalnya, mendukung orang baik menjadi pemimpin. 

Dengan cara mikirnya, dia jelas menghina jutaan orang relawan Jokowi yang dulu tanpa dikomando, tanpa dibayar, berjibaku memenangkan Jokowi. Mereka bergerak apa adanya. 

Dia juga menghina pemilih partainya, yang mungkin banyak yang gak dibayar ketika memilih. Atau ketika mendukung seorang Capres. 

Mereka semua ada yang bertempur di medsos. Ada yang mengorganisir emak-emak. Ada relawan alumni Sekolah. Bahkan beberapa orang rela bergesekan dengan keluarganya sendiri karena pilihan politik yang berbeda. 

Mereka juga beli kaos sendiri. Bikin acara sendiri. Uang dicari dari donasi sekadarnya. Kadang patungan. 

Bagi Trimedya yang biasa menghitung suara rakyat dengan duit, energi kerelawanan itu gak mungkin terjadi. Barangkali ia cuma mau nutupi kegagalan timnya sendiri: sudah capek keluarin duit besar untuk pasang baliho segede gaban di seluruh pelosim, eh, elektabitas calonnya jeblok terus. 

Jadi dia menuding peniingkatan elektabilitas Ganjar Pranowo pasti karena duitnya lebih banyak. Dibanding Capres yang diusung. 

Yang dia lupa, bahwa rakyat sudah cerdas. Rakyat tahu mana orang yang pas didukung, mana yang cuma buat lucu-lucuan. Jadi jangan pernah menghitung suara rakyat yang sadar politik dengan rupiahmu. 

Bang Trimedya, rakyat sekarang gak seperti yang kau bayangkan. Tidak secelamitan yang kau pikirkan. 

Kita bisa bergerak sendiri tanpa harus menunggu duit orang sejenis Anda. Duit rakyat lebih banyak dibanding duit tokoh parpol yang ngebet

Karena itu, sekali lagi, gak usah mencela rakyat yang punya inisiatif politik karena akal sehatnya sendiri. Jangan menuding semua orang celamitan.

Sebagai politisi parpol, silakan Anda jalan dengan cara Anda. Silakan bodohi terus rakyat dengan caramu, jika emang membayar pekerja politik lebih mudah untukmu. Tapi jangan sama ratakan kami dengan orang-orang itu. Yang selalu menghitung untung rugi dalam aktivitas politik. 

Kami ini rakyat biasa. Tidak terikat dengan Parpol. Tidak punya akses ke elit politik. Tapi sungguh, kami juga punya aspirasi sendiri. Punya cara sendiri untuk mengekspresikan pikihan politik kami. 

Silakan perbanyak baliho. Silakan kepak sayapmu. Kalau itu menurutmu efektif memancing suara publik. 

Kami mau memilih jalan melata di gang-gang sempit untuk bekerja. Untuk mendukung pilihan kami sendiri. Yang mungkin berbeda dengan pilihanmu. 

Tanpa baliho. Tanpa harus keluar banyak biaya. 

Zaman sekarang bukti dukungan cukup dengan membangun group-group WA. Bekerja di media sosial di akun masing-masing. Memperkenalkan Ganjar di keluarga. Teman. Lingkungan. Itu gratis. 

Sebagai organisasi Ganjarist hanya membantu infrastruktur jejaring. Dari nasional, propinsi, kabupaten/kota, sampai kecamatan dan tingkat desa. Dan saat ini, semua itu sudah kami lakukan. 

Sebab kami hanya ingat satu pepatah : kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan kejahatan yang terorganisir. 

Ketika dalam diskusi itu saya bilang, Ganjarist mencetak dan menjual merchandise bergambar Ganjar. Sebagian hasilnya untuk membiayai aktivitas. Dia langsung nyambung. "Jual kaos doang, mana bisa? "

Iya. Kalau kaos bergambar wajahmu. Memang gak akan laku. Mungkin dibagikan gratis pun orang ogah.

Tapi kalau kaos dan merchandise bergambar wajah Ganjar Pranowo ternyata laku keras. Kami sudah membuktikan itu. 17 ribu relawan Ganajrist yang tersebar di 378 kabupaten kota sudah membuktikan itu. 

Kami ini relawan. Bukan tukang yang cari penghasilan di politik. Kalau pendukung kamu hanya bisa bekerja jika ada uangnya. Bukan berarti semua orang seperti itu! 

Jadi, para politisi partai, jangan memandang rendah aspirasi politik rakyat. Jangan kau hitung suara kami cuma dengan angka-angka rupiahmu. Terlalu murah!

*Penulis adalah Ketum Kornas Ganjarist dan Pegiat Media Sosial