Sentil Ditjen Pendis, Menag: Kalau Semata Kerja Mekanis, Mesin Lebih Baik

By Admin


nusakini.com-Sentul -Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyentil jajaran Direktorat Jenderal Pendidikan Islam agar tidak semata bekerja secara mekanis saja. Jangan sampai, direktorat jenderal yang berfungsi untuk memberikan layanan pendidikan terjebak dalam rutinitas birokrasi semata. 

Hal ini disampaikan Menag saat Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi) bersama jajaran Ditjen Pendis di Sentul, Bogor. "Jangan menganggap peran ini hanya pekerjaan. Bila hanya itu, mesin bisa menggantikannya lebih baik. Tetapi kita pada dasarnya sedang membentuk manusia Indonesia," ujar Menag, Senin (21/01). 

Dalam acara yang dipandu oleh aktivis pendidikan Najeela Shihab, Menag meminta jajarannya untuk dapat melakukan inovasi-inovasi khususnya untuk meningkatkan kualitas program-program pendidikan. Acara Ngopi bersama Menag tersebut, merupakan bagian dari kegiatan Rapat Pimpinan (Rapim) Ditjen Pendis yang berlangsung selama tiga hari, pada 20 – 22 Januari 2019. 

Seorang birokrat yang baik, menurut Menag tidak hanya sekedar datang untuk bekerja saja. Tapi juga harus mampu mendobrak rutinitas yang ada dengan melakukan inovasi-inovasi. “Oleh karenanya, setelah rapim ini, saya minta tiap – tiap subdit punya pertemuan rutin masing-masing. Minimal seminggu sekali, untuk melakukan evaluasi program berdasarkan data-data yang kita miliki,” pesan Menag. 

Dengan melakukan evaluasi rutin, Menag berharap permasalahan – permasalahan di lapangan terkait Pendidikan Islam akan lebih mudah diselesaikan. Pertemuan yang dilakukan pun diharapkan akan menjadi sarana sharing ide antara pelaksana hingga penentu kebijakan. 

Menag ingin para pelaksana, pejabat eselon IV, III, dan sebagainya memiliki rasa percaya diri untuk memberikan usulan dan solusi terhadap permasalahan yang muncul. “Solusi tidak harus muncul dari pejabat di atas saja. Ini yang saya ingin ubah. Bahwa setiap kita harus punya rasa percaya diri untuk dapat memberikan saran dan solusi,” kata Menag 

“Kita harus mengenali betul bidang yang kita geluti. Agar dapat memunculkan rasa cinta pada pekerjaan. Jadi kita terhindar dari perilaku birokrasi yang seperti mesin,” imbuh Menag.(p/ab)