Profile

Abdul Khaliq Ahmad

Tempat Lahir : Jakarta

Tanggal Lahir : 08/08/1961


Description

Dia dibesarkan dan dididik dalam keluarga santri, Abdul Khaliq Ahmad ingin menjadi orang yang bermakna dan bermanfaat bagi orang lain. Mantan guru asal Cirebon kelahiran Jakarta 8 Agustus 1961 ini sama sekali tidak pernah menyangka akan duduk dalam kursi parlemen mewakili PPP dan PKB hingga menjadi Sekjen PKB (Partai kebangkitan Bangsa) yang kemudian menjadi Pekade (Partai Kejayaan Demokrasi) tahun 2003. Di dunia politik ia banyak berkecimpung dalam merumuskan pola dan sistem pendidikan dan pelatihan kader partai serta mengimplementasikannya hingga ke daerah-daerah. Masa kecilnya diisi dengan pendidikan agama dan moral dari kedua orang tuanya. Meskipun ayahnya hanyalah PNS golongan rendah, ayahnya yang berpandangan moderat mengharapkan Khaliq tidak hanya berperan di bidang agama tetapi juga di bidang lain. Setelah Khaliq lulus dari SD, keluarganya hijrah ke Jakarta dan tinggal di sebuah perumahan yang strata sosialnya rendah, Pademangan Barat, sekitar tahun 50-an. Kiprahnya di dunia politik tidak lepas dari pengaruh ‘guru politik’ yang dikenalnya semenjak 1989, Matori Abdul Djalil. Setahun setelah lulus dari IKIP Jakarta, aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang mengenal dunia politik semenjak tahun 1981 ini, bergabung dengan PPP atas ajakan Matori Abdul Djalil yang pada waktu itu terpilih sebagai sekjen PPP dalam Muktamar PPP di Ancol tahun 1989. Di PPP, Khaliq bersama teman-temannya terlibat dalam penyusunan dua draft rumusan konsep partai yaitu rumusan sukses pemilu PPP 1992 dan rumusan pola dan sistem pendidikan dan pelatihan kader PPP. Pengalaman ini menurutnya luar biasa karena ia menjadi salah satu konseptor program sukses pemilu PPP 1992 padahal belum pernah ikut pemilu. Meskipun semenjak tahun 1982 ia sudah mempunyai hak suara, ia tidak menggunakan haknya itu karena melihat proses politik di Indonesia saat itu tidak fair dan tidak memberi ruang bagi rakyat untuk mengartikulasikan kehendak dan aspirasi politiknya. Baru pada tahun 1992, ia menggunakan hak suaranya bersamaan dengan pelaksanaan program sukses pemilu PPP 1992. Dalam melaksanakan tugasnya, Khaliq tidak menemui kesulitan yang berarti karena data-data empiris yang diperolehnya dari berbagai arsip nasional dan arsip partai dapat diolah dan dijadikan sebuah rumusan yang nantinya menjadi program dan komitmen partai. Selain ia membantu Matori dan DPP PPP dalam menyusun konsep-konsep partai, ia juga membantu dalam hal penyusunan pidato politik dan makalah partai bagi Sekjen dan Ketua Umum PPP. Ia mendapat kepuasan tersendiri dalam mengerjakan tugas tersebut, karena ketika sang pemimpin berbicara kepada publik dengan menggunakan bahan yang disiapkannya, itu sama saja dengan ia sendiri yang sedang berbicara. Khaliq menyadari betul bahwa dalam dunia politik, masyarakat lebih melihat siapa yang berbicara, bukan apa yang dibicarakan. Jadi, walaupun sama-sama mengeluarkan konsep yang bagus, namun karena yang satu keluar dari seorang tokoh politik kenamaan, yang satu dari rakyat biasa, masyarakat pasti akan memilih mendengar pembicara yang mempunyai nama. Setelah bergabung dengan PPP selama 3 tahun, Khaliq dipilih menjadi bagian dari dua orang delegasi yang dipilih oleh ketua partai untuk memenuhi undangan dari American Council of Politic Leaders (ACOPL). Ia sadar betul bahwa ia termasuk orang baru di PPP, sehingga ia sangat kaget ketika ketua partai menunjuknya sebagai salah satu delegasi PPP yang akan mengikuti program pertukaran pimpinan muda politik Amerika-Indonesia selama 3 minggu. Program itu adalah pengalaman internasionalnya yang pertama. Di sana ia dibekali pengetahuan dan wawasan melalui berbagai dialog dan diskusi dengan pimpinan partai republik dan demokrat serta pemimpin-pemimpin muda partai. Ia juga banyak berdiskusi dengan tokoh pers, bisnis dan LSM Amerika. Pengalaman tersebut sangat memberikan andil bagi perjalanan karirnya termasuk posisinya sekarang ini. Setelah kembali ke Indonesia ia diminta oleh DPP PPP bergabung dalam tim penyusun yang terdiri dari Sri Bintang Pamungkas, Saleh Halib, Aisyah Amini untuk menyusun rancangan GBHN PPP. Berdasarkan hasil Pemilu, PPP mendapatkan 61 kursi, sedangkan saat itu masih ada anggota MPR Perimbangan yang diangkat langsung oleh presiden, sehingga berdasarkan undang-undang, PPP mendapatkan jatah 30 kursi untuk anggota MPR Perimbangan dari unsur partai. Khaliq termasuk salah satu orang yang diangkat oleh presiden menjadi anggota MPR. Setelah resmi menjadi anggota MPR, ia diminta oleh partainya menjadi anggota Badan Pekerja MPR untuk periode 1992-1997. Teman-temannya dalam BP-MPR adalah Jusuf Kalla, Abdul Latief, Harianto Darnotirto dan lain-lain. Hal ini menambah pengalaman politiknya apalagi ia adalah anggota MPR termuda saat itu, pada usia 31 tahun.