Orang Tua Wajib Tahu, Ini 3 Tanda-Tanda Kekerasan Seksual pada Anak

By Admin


"Terdapat beberapa tanda kekerasan seksual pada anak yang dapat dilihat dari tiga aspek. Mulai dari aspek perubahan emosi, perubahan perilaku, hingga adanya perubahan fisik.”

JAKARTA - Kekerasan seksual merupakan setiap tindakan menghina, merendahkan, dan/atau menyerang tubuh, dan fungsi reproduksi seseorang. Perlu diketahui bahwa kekerasan seksual tak hanya rentan terjadi pada orang dewasa, tetapi juga anak-anak. 

Dampaknya secara serius dapat memengaruhi beberapa aspek kehidupan anak. Mulai dari pertumbuhan anak itu sendiri, hingga prestasinya di sekolah. Pada anak-anak, kasus kekerasan seksual tidak selalu dapat terungkap, karena anak cenderung takut untuk menceritakannya kepada orang tua. 

Pasalnya, beberapa kasus kekerasan seksual pada anak, kerap dilakukan oleh orang terdekat, seperti salah satu anggota keluarga. Sebaliknya, ibu mungkin dapat memperhatikan tanda-tanda, termasuk tanda-tanda fisik dan perubahan perilaku atau emosi anak-anak. 

Sebagai bentuk pengawasan, penting untuk mengetahui apa saja tanda kekerasan seksual pada anak. Penasaran apa saja? Yuk, simak penjelasannya di sini seperti dilansir dari halodoc.com.

Tanda-Tanda Kekerasan Seksual pada Anak 

Terdapat beberapa tanda kekerasan seksual pada anak, antara lain:

1. Perubahan emosi

Salah satu tanda-tanda kekerasan seksual yang dapat terlihat pada anak adalah terjadinya perubahan emosi. Ibu mungkin dapat memperhatikan bahwa anak akan memiliki beberapa perubahan seperti: 

Lebih tenang atau lebih banyak menarik diri. 

Sering menangis tanpa alasan yang jelas. 

Menjadi sering mengompol atau mengotori celana mereka. 

Mengajukan pertanyaan seperti ‘Apakah orang harus menyimpan rahasia?’

Anak menjadi agresif atau tampak marah tanpa alasan yang jelas. 

Mengatakan kepala atau perut mereka sakit dan sepertinya tidak ada penyebab fisik. 

Sering mengalami mimpi buruk. 

Anak tiba-tiba menjadi lebih manja ke orang tua. 

2. Perubahan Perilaku 

Tanda-tanda kekerasan seksual pada anak selanjutnya adalah terjadinya perubahan perilaku pada anak. Maka dari itu, penting bagi orang tua untuk waspada, jika anak mengalami perubahan berikut: 

Tidak tertarik bermain dengan teman-temannya, atau menghindari tempat atau orang tertentu. 

Menunjukkan perilaku seksual yang bermasalah. 

Sering mengalami masalah tidur. 

Anak menjadi kurang berprestasi di sekolah.

3. Perubahan Fisik 

Selain adanya perubahan emosi dan perilaku, anak yang mengalami kekerasan seksual dapat mengalami perubahan pada fisiknya. Berikut adalah beberapa contoh perubahan fisik tersebut: 

Adanya pembengkakan atau kemerahan di area kelamin. 

Anak merasa sakit atau nyeri saat buang air ke toilet. 

Anak menunjukkan kesulitan ketika berjalan atau ketika akan duduk. 

Timbulnya memar di bagian tubuh yang lunak, seperti bokong atau paha. 

Adanya gejala infeksi saluran kemih, seperti terbakar saat pergi ke toilet. 

Anak mengalami beberapa gejala infeksi menular seksual, seperti keluarnya cairan dari penis atau vagina.

Apa yang Perlu Dilakukan oleh Orang Tua?

Jika anak telah menunjukkan satu atau lebih tanda perubahan (baik pada perilaku atau emosi) yang dijelaskan sebelumnya, itu tidak berarti mereka telah mengalami pelecehan seksual. Sebab, perilaku anak dapat berubah karena berbagai alasan. 

Namun, jika perubahan perilaku dan emosi terjadi secara terus-menerus, mungkin saja kondisi ini memang disebabkan oleh pelecehan seksual. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk mendampingi anak, dan mengajaknya berbicara secara perlahan, untuk bercerita mengenai apa yang terjadi. 

Jika ibu melihat adanya perubahan fisik pada anak, misalnya seperti adanya pembengkakan atau kemerahan pada area kelamin, segeralah memeriksakan anak ke dokter. Lalu, ajak anak untuk bercerita mengenai apa yang terjadi, dan jelaskan kepada anak, bahwa ibu akan melindungi dirinya. 

Jika kondisi tersebut disebabkan oleh kekerasan seksual, segeralah melaporkan kasusnya kepada pihak berwenang. Pastikan juga ibu mengajak anak ke psikolog untuk meminta saran medis yang tepat dalam mengatasi dampak negatif kekerasan seksual. (*)