Niat Jadi Pengelola Koperasi, 3 Sarjana Malah Pulang dalam Peti Mati Saat Latsarmil! Ada Apa?

By Admin

Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin/ Dok. DPR RI

nusakini.com, Jakarta – Program pencetakan kader Sarjana Penggerak Pembangun Indonesia (SPPI) yang digadang-gadang melahirkan pengelola andal untuk Koperasi Desa (Kopdes) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNPM), berubah menjadi tragedi. Bukan ilmu manajemen yang didapat, tiga nyawa pemuda terbaik bangsa justru melayang di medan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil).

Kematian beruntun tiga peserta ini memicu gelombang kecaman, salah satunya dari Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin. Purnawirawan jenderal bintang dua TNI ini mempertanyakan relevansi latihan ala militer ekstrem bagi calon manajer koperasi yang berakhir fatal.
Kronologi Tragis: Jantung Berhenti hingga Heat Stroke

Berdasarkan data yang dihimpun, intensitas latihan fisik yang diduga over-kapasitas memicu kegagalan organ fatal pada para peserta. Tiga korban yang gugur di antaranya:


1. Anisa Muyassaroh (Balikpapan): Dilaporkan tumbang setelah mengalami heat stroke (sengatan panas ekstrem) yang berujung pada henti jantung.

2. Yonanda Muhammad Taufiq (Baturaja): Mengembuskan napas terakhir akibat cardiac arrest atau henti jantung mendadak di tengah latihan.

3. Novia Rahmadhani Sihotang (Jakarta): Meninggal dunia setelah kesehatannya drop drastis akibat gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan tuberkulosis (TBC), diduga akibat dipicu oleh beban fisik yang melampaui batas kemampuan tubuhnya.


"Keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama. Program yang bertujuan membangun kapasitas SDM tidak boleh mengorbankan aspek kesehatan dan keamanan peserta!" tegas TB Hasanuddin dalam keterangan tertulisnya, Kamis (25/6/2026).

Kritik Tajam: Mau Cetak Manajer Koperasi atau Pasukan Tempur?


TB Hasanuddin menilai ada salah kaprah yang fatal dalam desain pelatihan SPPI. Menurutnya, calon pengelola koperasi desa seharusnya dijejali ilmu penguatan kapasitas organisasi dan manajemen teknis, bukan digembleng fisik layaknya prajurit yang siap dikirim ke medan perang.

Jika pun ada materi militer, porsinya wajib sangat terbatas dan hanya bertujuan untuk disiplin dasar.

"Pelatihan militer cukup diberikan pada tingkat dasar dan terbatas saja. Untuk membangkitkan kekompakan, disiplin, seperti baris-berbaris, santiaji, apel, dan senam pagi untuk kebugaran," ujar Mayjen TNI (Purn) tersebut.


Borok Skrining Kesehatan Mulai Terbongkar

Lebih dalam, Hasanuddin mencium adanya kelonggaran atau ketidakakuratan dalam proses seleksi medis (medical check-up) sebelum peserta diterjunkan ke lapangan. Kasus fatal seperti ini mengindikasikan adanya kelalaian dalam mendeteksi riwayat penyakit peserta.

"Pemeriksaan kesehatan harus dilakukan secara benar dan ketat oleh tim dokter. Jika proses skrining kesehatan tidak akurat, maka ketika peserta mengikuti latihan dengan beban fisik tertentu dapat menimbulkan risiko yang fatal," cecarnya.

Kini, desakan untuk menghentikan sementara dan melakukan evaluasi total menyeruak. Komisi I DPR RI meminta investigasi menyeluruh mulai dari mekanisme seleksi kesehatan, intensitas latihan di lapangan, kesiapan pengawasan medis, hingga tanggung jawab moral penyelenggara atas hilangnya tiga nyawa berharga tersebut. (*)