(Catatan terhadap The Young Climate Leaders, Indonesia)

Oleh: Swary Utami Dewi

The Climate Reality Leaders 2009

nusakini.com - "Larinya kencang sekali, ya.." Begitu gurauanku melihat kiprah anak-anak muda yang baru bergabung menjadi the Climate Reality Leaders Indonesia. Totalnya tidak lebih dari 25 orang, dengan rentang usia 18 sampai 25 tahun. Mereka memang besutan baru hasil pelatihan virtual global Perubahan Iklim ke-2 yang diadakan oleh The Climate Reality Project. Bersama dengan sekitar lima ribuan peserta dari seantero jagat, Agustus 2020 lalu mereka secara virtual dilatih langsung oleh Al Gore dan tim the Climate Reality tentang isu perubahan iklim. Sesudahnya, ada Act of Leadership, semacam aksi nyata untuk perubahan iklim yang bisa dilakukan sendiri atau bersama-sama, bagi para Climate Leaders baru ini.

Kaum muda ini memulai gebrakannya dengan membuat Instagram khusus yang dinamai Ruang Iklim. Kontennya tentu saja seputar isu perubahan iklim. Dan yang membuatku suka karena mereka melakukannya "as a group", bukan upaya orang per orang saja.

Kemudian, saat ada event dunia "Fridays for Future" yang diinisiasi oleh Greta Thunberg -- seorang aktivis muda perubahan iklim dari Swedia -- puluhan anak muda Indonesia ini menyambutnya dengan menyelenggarakan kegiatan khusus. Tidak main-main. Yang ingin dilakukan adalah memberikan usulan langsung kepada para pengambil kebijakan. Kegiatan tersebut diberi judul "Dialog Fridays For Future 

Forum (DF4) bersama Pemuda Indonesia", pada Jumat, 25 September 2020. 

Tentu saja kegiatan ini tidak ujug-ujug ada. Ada kegiatan inisiasi pada 23 September 2020 berbentuk diskusi grup terfokus, yang terbagi dalam empat kelompok isu: kehutanan, pertanian, sampah dan energi. Dimentori oleh beberapa Climate Leaders Indonesia yang sudah lumayan lama tergabung di Climate Reality, diskusi grup yang diikuti para partisipan yang juga berusia muda ini, menghasilkan total empat rekomendasi isu yang ditujukan untuk para pengambil kebijakan. 

Hari H itupun tiba, 25 September 2020. Hari itu digelar "Dialog Fridays For Future Forum (DF4) bersama Pemuda Indonesia". Sekitar 90an peserta dan undangan hadir secara virtual. Melegakan melihat ada dua legislator yang masih berusia milenial hadir: Dyah Roro Esti dan Budisatrio Djiwandono. Juga hadir Wakil Menteri (Wamen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Alue Dohong, (yang juga baru menjadi the Climate Leader) serta beberapa petinggi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta Pemerintah DKI Jakarta. Ada pula tokoh senior perubahan iklim Indonesia, Rachmat Witoelar.

Perwakilan para anak muda ini dengan penuh percaya diri memaparkan hasil diskusi dan rekomendasi kepada para pengambil kebijakan. Dari isu kehutanan misalnya menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam proses pengambilan keputusan dan perlunya negara membuat kurikulum pendidikan khusus tentang lingkungan dan perubahan iklim. Grup pertanian mengemukakan bahwa salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah revitalisasi pangan lokal. Kelompok sampah misalnya memberikan usulan bahwa penegakan hukum terkait sampah sangat perlu diterapkan dan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penanggulangan sampah perlu dilakukan. Lalu, grup energi salah satunya merekomendasikan agar pemerintah lebih aktif mendorong pembangunan energi baru dan terbarukan (EBT).

Semua rekomendasi ini mendapat apresiasi dari para pengambil kebijakan. Legislator Esti misalnya mengatakan bahwa usulan EBT sedang digodok dalam suatu Rancangan Undang-Undang (RUU). Budisatrio menyambut baik rekomendasi terkait kehutanan, pertanian dan sampah yang memang menjadi fokus dari Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). "Sangat konstruktif masukan-masukan ini," sambutnya gembira.

Wamen LHK, Alue Dohong, selain mengapresiasi juga mengajak generasi muda untuk selalu menonjolkan keunikan lingkungan dan kekayaan alam Indonesia. "Penting untuk selalu merasa bangga akan segala kekayaan alam, lingkungan dan keanekaragaman hayati Indonesia," ujar Wamen menyemangati kaum muda ini.

Dan ketika dialog kebijakan ini terselenggara dengan baik, ada rasa bangga terhadap para Climate Leader muda ini. Tidak dinyana, ternyata mereka "baru belajar" menggelar acara inspiratif ini. Mentor anak-anak muda tersebut, Dino, menceritakan betapa para "pemula" ini merasa deg-degan tentang ajang tersebut. Banyak yang baru pertama kali mereka pelajari: membuat video, poster, dan sebagainya. Ajaibnya, berbekal semangat dan kecerdasan belajar cepat, duapuluhan anak ini berhasil menggawangi dialog tersebut dengan sangat baik.

Kiranya tepat apa yang diungkapkan oleh Rachmat Witoelar terhadap generasi muda The Climate Leaders Indonesia. "Saya bangga terhadap anak-anak muda ini. Mereka menggambarkan energi negara yang kreatif dan bersemangat. Masa depan adalah milik generasi muda." Ungkapan tokoh lingkungan hidup ini menggambarkan bahwa masa depan Indonesia niscaya cerah selama negara ini memiliki generasi muda yang berkapasitas, punya komitmen tinggi dan mau selalu belajar. Dan harapan kita salah satunya tentu saja diletakkan pada para youth dari The Climate Reality Indonesia tersebut. Bravo.