Membaca Arah Kebijakan Tambang Nasional Pascakeberhasilan Menggeser Posisi China

By Admin


Menteri ESDM Bahlil Lahadalia/ Dok. ESDM

nusakini.com, Strategi hilirisasi nikel terbukti menjadi salah satu kebijakan ekonomi paling transformatif bagi Indonesia dalam satu dekade terakhir. Kewajiban pengolahan bijih mentah di dalam negeri sukses melambungkan pangsa pasar nasional ke angka 41 persen secara global.

Dominasi pasar ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk mulai mengontrol stabilitas harga komoditas di tingkat internasional. Kebijakan pengendalian rencana kerja dan anggaran perusahaan menjadi instrumen baru untuk menata keseimbangan pasokan dunia.

Langkah strategis tersebut diklaim efektif dalam menghentikan praktik spekulasi yang kerap merugikan negara produsen. "Harga nikel sekarang mulai tidak lagi dipermainkan secara leluasa oleh oknum-oknum tertentu. Inilah sebenarnya tujuan kita," kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

Kendati demikian, dominasi volume produksi ini belum sepenuhnya diiringi oleh kemandirian investasi domestik. Lanskap industri pemurnian nikel nasional belakangan ini dinilai masih sangat bergantung pada kucuran dana dari luar negeri.

Hal ini tercermin dari struktur kepemilikan mayoritas fasilitas smelter yang masih dipegang oleh perusahaan-perusahaan Tiongkok. "Pada tahun 2021, Indonesia menyalip Tiongkok untuk menjadi produsen terbesar di dunia dan sekarang jauh di depan. Tetapi sebagian besar dari pertumbuhan itu melibatkan modal China," tulis lembaga riset Our World in Data.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa tantangan kebijakan ke depan tidak lagi sekadar soal meningkatkan angka volume produksi. Pemerintah dituntut untuk mulai merumuskan strategi pelibatan modal dalam negeri agar nilai tambah ekonomi benar-benar dinikmati bangsa sendiri. (*)