Krisis Air di Kalimantan Ancam Pasokan Global, Begini Proyeksi Harga Batu Bara
By Admin

Ilustrasi Tambang Batubara
nusakini.com, Lonjakan harga komoditas "emas hitam" di pasar global diprediksi bakal terjadi akibat kombinasi fenomena cuaca ekstrem dan kebijakan pembatasan domestik. "Terlebih, terdapat pula kebijakan pemangkasan produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya 2026," ujar pengamat sektor energi pada Kamis, 3 September 2026.
Kendala distribusi di jalur perairan Kalimantan dilaporkan memperketat pasokan ekspor batu bara nasional secara signifikan dalam beberapa waktu terakhir. “Rendahnya permukaan air di Sungai Barito telah memaksa sejumlah produsen menyatakan force majeure atas pengiriman,” ungkap laporan Argus Media pada Rabu, 2 September 2026.
Menanggapi situasi tersebut, Ketua Indonesian Mining and Energy Forum Singgih Widagdo memperkirakan eskalasi harga komoditas ini akan berada pada batasan tertentu. “Namun, saya yakin kenaikan secara tajam tidak terjadi, terbatas pada level US$140 per ton,” kata Singgih ketika dihubungi pada Kamis, 3 September 2026.
Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia Sudirman Widhy Hartono menyatakan bahwa kekeringan di sungai Barito memberikan tekanan nyata terhadap aktivitas logistik pengapalan. “Gangguan terhadap transportasi pengiriman batubara ini tentunya juga akan berdampak terhadap kenaikan harga jika volume ketersediaan batu bara jauh lebih kecil dibandingkan dengan volume permintaan dari negara pembeli,” ujar Sudirman ketika dihubungi, Kamis, 3 September 2026.
Pembatasan volume tersebut turut dipicu oleh penyesuaian target produksi di dalam negeri yang mengalami penurunan drastis dibanding tahun sebelumnya. "Adapun, Kementerian ESDM memangkas target produksi batu bara pada tahun ini di dalam RKAB 2026 menjadi sekitar 600 juta ton, turun dari realisasi produksi pada 2025 sebanyak 817,48 juta ton," catat laporan resmi kementerian.
Besarnya volume pengiriman ke luar negeri selama paruh pertama tahun ini mencatat angka yang cukup besar sebelum hambatan cuaca ini meluas. "Ekspor batu bara dilaporkan mencapai 231,06 juta ton atau setara dengan US$14,09 miliar pada semester I-2026," rinci data resmi Kementerian ESDM.
Negara tujuan utama seperti China mendominasi daftar pembeli terbesar komoditas energi asal Indonesia sepanjang periode awal tahun tersebut. "Berdasarkan negara tujuannya, ekspor batu bara sepanjang Januari hingga Juni 2026 paling besar ke China dengan volume 87 juta ton, diikuti India 43 juta ton, dan Filipina 19 juta ton," jelas kementerian terkait. (*)