Harga Fantastis Sebuah Ketenangan di Tengah Pusaran Skandal Asuransi

By Admin


Ilustrasi

nusakini.com, Kecemasan luar biasa diduga kuat menghantui benak pengusaha Tan Kian saat namanya mulai terseret dalam pusaran skandal mega korupsi Asuransi Jiwasraya. Rentetan pemanggilan dan pemeriksaan yang harus dijalaninya belakangan ini diyakini sukses memporak-porandakan ketenangan hidup sekaligus kelancaran roda bisnisnya.

Rasa panik sang pengusaha diduga semakin memuncak tak terkendali ketika penyidik kejaksaan akhirnya menetapkan Benny Tjokorosaputro alias Bentjok sebagai tersangka utama. Kondisi psikologis yang tertekan hebat inilah yang disinyalir menjadi titik masuk bagi pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk menawarkan iming-iming perlindungan semu.

Merasa posisinya kian terancam di tengah proses hukum yang masih berjalan, korban akhirnya meminta bantuan seorang kolega bernama Lucy Kweek untuk mencarikan jalan keluar terbaik. Permintaan tolong tersebut berujung pada sebuah pertemuan penting dengan sosok Ferry Yanto Hongkiriwang yang digelar secara rahasia di sebuah pusat perbelanjaan elit ibu kota.

Pertemuan krusial yang awalnya diharapkan membawa pencerahan itu justru diwarnai dugaan intimidasi halus mengenai potensi status hukum sang pengusaha yang bisa sewaktu-waktu berubah menjadi tersangka. "Jangan dijadikan tersangka dong, kan saya tidak ada hubungannya dengan perkara Asabri atau Jiwasraya," keluh korban memelas seperti yang dibacakan oleh jaksa di persidangan terakhir.

Jeratan rasa takut yang diduga sengaja dibangun itu pada akhirnya berujung pada permintaan dana fantastis senilai lima juta dolar Singapura sebagai jaminan keamanan. Demi terhindar dari jeruji besi, sang pengusaha diduga terpaksa mengorbankan hartanya dan menyanggupi tuntutan uang pelicin yang jumlahnya menembus angka Rp55 miliar tersebut.

Proses penyerahan uang yang diwarnai ketegangan ini dikabarkan berlangsung secara bertahap dalam tiga kali pertemuan tersembunyi di sebuah hotel berbintang di Jakarta Selatan. Jejak aliran dana raksasa tersebut kemudian diduga berusaha disamarkan oleh para pelaku dengan cara dititipkan terlebih dahulu di sebuah perusahaan penukaran uang asing.

Tumpukan uang bernilai puluhan miliar yang dikemas rapi dalam sebuah ransel itu pada akhirnya diklaim bermuara di kediaman pribadi sang mantan petinggi penyidik. Kisah tragis ini menjadi pengingat kelam tentang bagaimana rasa takut seorang saksi diduga masih sangat rentan dieksploitasi untuk memperkaya oknum penegak hukum secara culas. (*)