Ewako yang Bergema: Ketika Sunyi, Doa, dan Kemenangan Bertemu di Meja Domino

By Admin

Ketua Pengprov ORADO Sulsel Firman Zulkadri bersama Bendahara Yusran Anis

nusakini.com, Di sebuah ruang yang dipenuhi napas tertahan, Turnamen Olahraga Domino Nasional (ORADO) 2026 mencapai puncaknya. Di JSI Resort, Megamendung, Bogor, Jawa Barat, bukan hanya kartu-kartu yang disusun rapi di atas meja—melainkan juga harapan, kecemasan, dan keyakinan yang diam-diam tumbuh.

Dari sudut arena, suara-suara datang seperti gelombang kecil yang tak henti. “Ambaki”, “garatta memangmi”, “sepoloki”, “paentengi siri’nu”—dan terutama “ewako”, yang berkali-kali mengudara, seolah menjadi napas panjang bagi tim Sulawesi Selatan. Ia bukan sekadar sorakan, melainkan semacam janji yang diucapkan berulang: bahwa mereka tidak sendiri.

Namun, setiap janji itu harus berhenti sejenak. Ketika permainan dimulai, ruang itu berubah menjadi sunyi yang ketat. Penonton diminta diam. Dan dalam diam itulah, wajah-wajah menjadi jujur—tegang, penuh harap, bahkan sedikit cemas. Tidak ada lagi sorakan, hanya tatapan yang mengikuti setiap gerak kartu.

Di tengah sunyi itu, tiga nama bekerja tanpa banyak kata: Reski, Aldi, dan Hamdan. Mereka bukan hanya bermain, tetapi menjaga keseimbangan—antara emosi dan strategi, antara keberanian dan kehati-hatian. Konsistensi mereka sepanjang turnamen menjadi semacam benang halus yang mengikat perjalanan tim hingga ke ujung.

Tak jauh dari mereka, berdiri dua sosok dengan cara masing-masing menghadapi ketegangan. Firman Zulkadri, Ketua Pengprov ORADO Sulawesi Selatan, sesekali mengangkat tangan, memberi isyarat kepada para pendukung agar tetap tenang. Ia seperti penjaga ritme, memastikan semangat tidak berubah menjadi kegaduhan.

Di sisi lain, Yusran Anis Bendahara Pengprov ORADO Sulsel lebih memilih diam. Ia tidak banyak bergerak, tidak banyak bicara. Namun dari raut wajahnya, tampak sesuatu yang lain—sebuah keyakinan yang tidak perlu diteriakkan. Seolah ada doa yang terus mengalir, tanpa suara, tanpa jeda.


Atlet ORADO Sulsel, Reski, Aldi, dan Hamdan


Dan ketika saat itu tiba—set penentuan yang menjadi batas antara harapan dan kenyataan—waktu terasa melambat. Hingga akhirnya, tim Sulawesi Selatan berhasil meraih posisi pertama setelah mengalahkan Sumatera Selatan pada laga final.

Sunyi yang tadi dijaga runtuh seketika.

Sorakan meledak, seperti bendungan yang jebol. “Ewako” menggema lebih keras dari sebelumnya. Orang-orang berdiri, berpelukan, melompat tanpa ragu. Emosi yang sejak awal tertahan kini menemukan jalannya.

Firman yang tadi menenangkan, kini ikut melompat dalam kegembiraan. Yusran yang diam, akhirnya tersenyum dan larut dalam suasana. Tidak ada lagi jarak antara ofisial, pendukung, dan pemain—semuanya menjadi satu dalam perayaan yang sederhana namun penuh makna.

Barangkali, kemenangan ini bukan semata tentang siapa yang unggul di meja permainan. Lebih dari itu, ia adalah tentang kesetiaan untuk tetap percaya—bahkan ketika harus menunggu dalam diam.

Dan di antara gema “ewako” yang perlahan mereda, tersisa satu hal yang tak terlihat di papan skor: kebersamaan yang diam-diam menguatkan, sejak awal hingga akhir. (*)