Di Wundulako, Sebuah Pintu Kecil Dibuka untuk Masa Depan

By Admin

Foto : Diskominfo Kab. Kolaka

nusakini.com, Pagi di Wundulako belum sepenuhnya lepas dari sisa embun ketika langkah-langkah orang berdatangan ke halaman Yayasan Pendidikan Islam Nursyamzam. Tidak ada gemuruh, tidak pula hiruk-pikuk. Hanya kesibukan yang tertib, wajah-wajah yang menyimpan harap, dan satu keyakinan sederhana: hari itu, sebuah pintu kecil sedang dibuka untuk masa depan anak-anak Kolaka.

Di tempat itulah, Jumat (30/01), Bupati Kolaka H. Amry meresmikan sekaligus melaunching SPPG Kolaka Wundulako Kowioha. Sebuah nama yang terdengar teknis, nyaris administratif. Namun di balik akronim itu, sesungguhnya tersimpan cerita manusia—tentang ikhtiar, keterbatasan, dan tekad untuk tidak menyerah pada keadaan.

Pendidikan, di daerah seperti Wundulako, bukan sekadar soal gedung atau papan nama. Ia adalah perjuangan sunyi para orang tua yang berharap anaknya kelak tak sekadar menjadi penonton di tanah sendiri. Ia adalah doa-doa panjang yang dilantunkan di surau-surau kecil, agar ilmu dan akhlak tumbuh beriring, bukan saling meniadakan.

Bupati Kolaka, dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Pendidikan Islam Nursyamzam. Kalimat itu mungkin terdengar formal. Namun jika disimak lebih dalam, ada pengakuan penting di sana: bahwa negara, dengan segala kewenangannya, tetap membutuhkan tangan-tangan masyarakat yang bekerja dalam senyap. Bahwa pendidikan tidak pernah lahir dari kebijakan semata, melainkan dari kesetiaan orang-orang yang bertahan mendidik meski sering kekurangan.

“Hadirnya SPPG Kolaka diharapkan mampu mencetak generasi yang berakhlak, berilmu, dan berdaya saing,” ujar Bupati Amry. Kalimat itu sederhana, tetapi maknanya luas. Berakhlak—sebuah kata yang hari ini kerap terdengar kuno, namun justru paling relevan di tengah zaman yang sering mengukur manusia dari angka dan gelar. Berilmu—bukan sekadar pintar, tetapi paham. Dan berdaya saing—bukan untuk saling menyingkirkan, melainkan untuk berdiri sejajar.

Di sisi lain, hadir pula H. Ahmad Safei, anggota Komisi V DPR RI. Ia berbicara tentang sinergi antara pusat, daerah, dan lembaga pendidikan. Lagi-lagi, kata “sinergi” mungkin terdengar klise. Tetapi di wilayah pinggiran seperti Wundulako Kowioha, sinergi bukan jargon. Ia adalah kebutuhan nyata. Tanpanya, bangunan pendidikan bisa berdiri, tetapi roh pembelajarannya rapuh.

Yang menarik, peresmian ini berlangsung khidmat. Bukan karena protokol, melainkan karena kesadaran bersama bahwa pendidikan adalah urusan serius. Di antara para tokoh masyarakat dan pendidik yang hadir, tersirat satu kegelisahan yang sama: bagaimana memastikan anak-anak Kolaka tumbuh sebagai manusia utuh, bukan sekadar tenaga kerja yang kehilangan akar.

SPPG Kolaka mungkin tidak langsung mengubah wajah Kabupaten Kolaka. Ia tidak serta-merta menghapus kemiskinan, tidak pula menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan. Tetapi seperti mata air kecil di kaki bukit, ia memberi tanda kehidupan. Ia menawarkan harapan bahwa dari ruang-ruang belajar sederhana, kelak akan lahir generasi yang tahu dari mana mereka berasal dan ke mana harus melangkah.

Di Wundulako, hari itu, yang diresmikan bukan hanya sebuah lembaga. Yang diteguhkan adalah keyakinan lama yang sering kita lupakan: bahwa mendidik manusia berarti merawat martabatnya. Dan selama masih ada orang-orang yang setia pada keyakinan itu, masa depan—betapapun rapuhnya—masih layak diperjuangkan. (*)