Profile

I Gusti Made Sutjaja

Tempat Lahir : Denpasar

Tanggal Lahir : 04/10/1944


Description

Di era modern seperti sekarang ini barang kali hanya segelintir orang yang tertarik untuk melestarikan budaya tanah kelahiran dengan mempelajari bidang bahasa daerah. Mungkin hanya mereka yang merasa bertanggungjawab dengan budaya yang akan melestarikannya. Tapi, tidak bagi I Gusti Made Sutjaja. Lahir di Denpasar, 4 Oktober 1944, Sutjaja mulai tertarik dengan dunia bahasa sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Setiap hari, ayahnya sering memutar siaran radio internasioanl, BBC, yang berakibat memberikan dampak positif pada suami dari Ni Luh Nugarah Arningsih ini. Terbiasa mendengarkan siaran radio internasional, Sutjaja pun mahir berbicara bahasa Inggris sejak ia duduk di bangku SMP. Latar belakang inilah yang membuat Sutjaja kemudian memutuskan untuk berkecimpung di dunia bahasa. Saat menginjak jenjang SMA pun Sutjaja memilih jurusan bahasa dan budaya melanjutkan minatnya. Cintai dan peliharalah minatmu, barang kali ungkapan tersebut yang mendorong Sutjaja untuk terus menggeluti bidang bahasa dan budaya yang mengantarkannya masuk pada Fakultas Sastra jurusan bahasa Inggris Universitas Udayana. Saat itu, belum ada jurusan bahasa Bali sehingga ia memilih untuk mendalami bahasa Inggris. Pada tahun 1969, selepas lulus dan meraih gelar sarjana muda, Sutjaja lantas mengabdikan diri pada yayasan yang dibentuk ayahnya, Yayasan saraswati, dan bekerja sebagai tenaga honorer sampai tahun 1972 sebelum akhirnya ia melanjutkan pendidikan untuk meraih gelar sarjana pada IKIP Malang. Perlahan namun pasti, tekad Sutjaja untuk mengembangkan dan melestarikan bahasa dan budaya Bali semakin bulat. Melalui Fakultas Sastra Universitas Udayana sebagai dosen, setelah sebelumnya mengambil program beasiswa Diploma di Australia, Sutjaja mendapatkan beasiswa S2 dan S3 di bidang linguistik di negeri kangguru. Ia terus mengembangkan bidang bahasa dan budaya khususnya Bali. Kiprahnya yang tak bisa dianggap main-main karena telah mengembangkan budaya dan bahasa Bali seperti melalui cerita rakyat Bali nyatanya mampu mengantarkannya untuk lebih banyak dikenal masyarakat luas. Tak hanya dikenal oleh masyarakat Bali, nama Sutjaja pun sampai di universitas bahasa asing, Tokyo, Jepang. Di sana, ia mendapatkan jabatan bergengsi yakni sebagai profesor tamu yang bekerja di pusat penelitian bahasa dan budaya Asia-Afrika universitas bahasa asing Tokyo. Selama satu tahun ia bekerja sebagai peneliti (2002-2003) membuat Sutjaja terpacu untuk semakin melestarikan budaya Bali. Jauh sebelumnya, dengan latar belakang malu karena ada warga asing yang berbahasa Bali lebih lancar dari dia saat ia tengah kuliah di Australia, maka sejak tahun 1980-an ia mulai mengumpulkan berbagai kosa kata dan percakapan Bali mulai dari kata yang biasa digunakan, halus, dan umum. Selain berbekal dari rasa malu dan tekad yang kuat, Sutjaja mengaku terinspirasi dari buku karya linguis Belanda, Dr. HN. Van Der Tuuk, yang berjudul Kawi-Balineesch-Nederlandsch pemberian temannya. Akhirnya, setelah mengumpulkan banyak kata per kata, pada tahun 1990 Sutjaja merilis kamus Balinese-English, English-Balinese. Kata yang dikumpulkan berkembang menjadi semakin banyak, nama Sutjaja semakin dikenal, dan berbagai bukunya sudah banyak dicetak oleh percetakan nasional maupun internasional (Periplus, Singapura), Sutjaja mengaku bahwa ia prihatin terhadap bangsa Indonesia yang mengaku berbudaya namun tidak memelihara budaya. Ia mencontohkan minimnya minat masyarakat dalam melestarikan budaya dan bahasa daerah masing-masing. Ia pun berprinsip bahwa selama ia hidup, ia akan membuat karya tulis atau penelitian yang serius dan berguna bagi banyak orang.