Gelombang Panas Asia Dongkrak Konsumsi Listrik, Permintaan Batu Bara Tetap Kuat

By Admin


Ilustrasi Batu bara
nusakini.com, Gelombang panas yang melanda sejumlah wilayah Asia menjadi faktor utama yang menjaga permintaan batu bara tetap tinggi meskipun harga komoditas tersebut mengalami koreksi pada perdagangan terbaru.

Harga batu bara tercatat turun 0,86% ke level US$138,2 per ton pada Rabu (27/5/2026), setelah sehari sebelumnya menguat hingga mencapai US$139,4 per ton. Meski terkoreksi, pasar masih melihat dukungan kuat dari sisi konsumsi energi, terutama di India dan China.

Di India, suhu tinggi mendorong lonjakan kebutuhan listrik untuk sektor rumah tangga maupun industri. Kondisi tersebut membuat pemerintah dan pelaku industri energi meningkatkan perhatian terhadap ketersediaan pasokan batu bara bagi pembangkit listrik.

Coal India, perusahaan tambang batu bara milik negara, sebelumnya meminta anak-anak usahanya meningkatkan pengiriman ke pembangkit listrik guna mengantisipasi kenaikan konsumsi energi. Langkah itu dilakukan untuk mencegah risiko kekurangan pasokan ketika permintaan listrik mencapai puncak.

Beberapa pembangkit listrik di India juga dilaporkan memiliki cadangan batu bara yang terbatas, bahkan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan kurang dari satu pekan. Situasi tersebut membuat permintaan pasokan batu bara tetap tinggi.

India sendiri masih sangat bergantung pada batu bara sebagai sumber energi utama. Lebih dari 70% listrik negara tersebut berasal dari pembangkit berbahan bakar batu bara, meskipun kapasitas energi non-fosil terus bertambah.

Sentimen serupa juga muncul dari China. Gelombang panas yang mulai melanda wilayah selatan sejak akhir Mei meningkatkan penggunaan pendingin ruangan dan mendorong konsumsi listrik ke level yang lebih tinggi dari biasanya.

China Southern Power Grid mencatat beban listrik mencapai rekor baru pada 25 Mei 2026. Kenaikan beban listrik tersebut terjadi lebih awal dibandingkan pola tahunan sebelumnya, ketika puncak konsumsi umumnya berlangsung pada Juni atau Juli.

Wilayah Guangxi dan Hainan juga mencatat rekor konsumsi listrik baru pada periode yang sama. Kondisi ini menunjukkan aktivitas penggunaan energi meningkat bahkan sebelum musim panas memasuki fase puncaknya.

Lonjakan kebutuhan listrik di dua negara dengan populasi terbesar di dunia tersebut menjadi indikator penting bagi pasar batu bara. Semakin tinggi konsumsi listrik, semakin besar kebutuhan pembangkit untuk menjaga pasokan energi tetap stabil.

Karena itu, meskipun harga batu bara sempat terkoreksi, pelaku pasar masih menilai prospek permintaan komoditas ini tetap solid selama gelombang panas di India dan China berlanjut dalam beberapa pekan mendatang. (*)