(Video) Kisah Pilu Warga Malangke Luwu Utara

By Admin


Nusakini.com - Luwu Utara - Masalah banjir di Malangke Raya, masih menjadi persoalan yang belum teratasi oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Luwu Utara (Lutra).

Sebut saja kondisi saat ini yang direkam melalui video, tepatnya di Desa Tolada Kecamatan Malangke. Adapun Tolada tercatat sebagai "ibu kota" kecamatan.

Salah satu pemuda Desa saat dikonfirmasi menjelaskan, banjir yang melanda Desa nya sudah sejak lama.

"Bicara masalah banjir di Malangke itu sudah lama selalu banjir, itu istilahnya banjir tahunan. Tapi sejak dari 2018 intensitas dan volume air menjadi semakin sering dan semakin tahun semakin tinggi. Bukan lagi banjir tahunan tapi jika debit hujan di hulu meningkat maka sudah di pastikan Malangke akan kebanjiran," kata salah satu pemuda setempat yang tak mau disebutkan namanya, melalui pesan singkat, Jumat (25/3/2022).

Ia menjelaskan, di tahun 2019 debit air semakin bertambah. Daerah yang dulunya tidak tergenang, kini menjadi langganan banjir.

"2019 intensitas banjir pun meningkat bisa terjadi dua kali dalam sebulan. Petani yang mempunyai lahan di dekat sungai sudah tidak lagi menggarap lahannya karena tidak ada waktu yang aman dalam setahun itu untuk terhindar dari banjir," jelasnya.

Selanjutnya, di tahun 2020 sebelum musibah pahit melanda Luwu Utara di pertengahan tahun 2020 (banjir bandang-red), terlebih dahulu air sungai baliase telah menyebrang ke sungai Masamba, sehingga menambah debit air yang masuk ke kecamatan Malangke. Dan pasca banjir bandang mengakibatkan pendangkalan sungai yang membuat Malangke menjadi langganan banjir yang bisa terjadi setiap minggunya. 

"Lahan warga yang dulunya produktif kini telah menjadi seperti danau yang airnya tidak kunjung surut. Mengakibatkan beberapa masyarakat mulai meninggalkan Malangke karna tidak ada lagi lahan garapan yang bisa menopang kebutuhan sehari hari, tempat tinggal nya pun hampir tiap Minggu tergenang air, di tambah pandemi yang membuat kebutuhan , maka pergi adalah pilihan yang terbaik walaupun itu sangat sulit," jelasnya.

"Bahkan memasuki tahun 2021, mulai awal tahun hingga berakhirnya tahun 2021 kini banjir bisa datang 3 kali dalam seminggunya. Daerah desa tolada dusun talagonggo ujung hanya pernah kering beberapa hari saja sisanya air masih menggenangi pemukiman warga sampai hari ini," jelasnya.

"Sudah banyak masyarakat memilih meninggalkan daerah Malangke tercinta, di dusun karya baru desa Malangke puluhan KK telah pergi, dan sekarang sudah banyak warga yang mulai mempersiapkan diri untuk pergi dari kecamatan Malangke, akibat dari banjir yang bisa datang kapanpun walau tak ada hujan," sambungnya.

Lebih lanjut, di tahun 2022 baru memasuki bulan ketiga, sudah puluhan kali kampung kami terendam banjir, bahkan dalam bulan ketiga ini banjir yang melanda kami sudah bagaikan air pasang di laut, tak cukup 2 hari surut, airpun kembali menggenangi pemukiman rumah kami.

"Bahkan ada satu daerah di talagonggo desa tolasa yang sudah hampir satu bulan ini air tidak kunjung surut juga. Belum lagi lahan yang sudah seperti danau yang sudah memasuki tahun ke 3 ini tidak pernah tergarap lagi, akibat air tak kunjung surut. Walau tahun kemarin ada kemarau tapi lahan pertanian kami tidak kunjung menampakkan permukaan tanahnya juga," jelasnya.

"Ini adalah rentetan histori yang ada di daerah kami terkhusus nya kecamatan Malangke desa tolada," sambungnya.

“Mungkin saya sebagai masyarakat terdampak dan mewakili seluruh masyarakat kecamatan Malangke yang terdampak banjir, berharap pemerintah agar kiranya bisa sedikit memberikan perhatian khusus kepada daerah kami.”, harapnya (Ip)


Berikut videonya: