Oleh Swary Utami Dewi

The Climate Reality Leader Indonesia, Anggota TP2PS, Pegiat Aksi Literasi

nusakini.com - Turiana. Demikian ia dipanggil. Usianya lewat 40. Dayak, perempuan, tidak menikah. 

Pandanglah wajahnya. Ia memiliki profil wajah khas Dayak. Agak bulat. Hidung mungil. Mata sipit. Rambut hitam. Kulit kuning langsat.

Turiana namanya. Ia duduk mengeja. Terbata perlahan. Melihat lembar demi lembar kertas itu.

Dalam hening ia memandang. Kosong. Dalam hening ia ingat almarhum ibunya, Line. "Dalam dirimu mengalir darah Tamanggung. Tidak mundur ia saat Belanda mencoba masuk ke lewu buyutmu dulu."

Turiana namanya. Dayak Ngaju sukunya. Bue dan tambinya peladang berpindah. Masih ingat masa kecilnya dulu di tepi Sungai Kahayan. Saat air tinggi di musim hujan, menyeberang dengan jukung ia untuk bisa sampai berrsekolah ke Palangkaraya. Saat musim kemarau, akan giranglah ia bersahabat dengan Kahayan, karena pasir gosong akan timbul menyembul, sehingga sungai menjadi dangkal bahkan bisa dijejak dengan kaki kecilnya.

Turiana namanya. Kecerdasannya membuat ia mampu mendapat beasiswa dari universitas ternama di negeri ini. Saat ia pertama kali menjejak kaki ke kota besar, naik pesawat, hambaruannya bergetar. Perih meninggalkan ladang padi buenya, nyeri mengingat ia akan kehilangan musim-musim saat kasturi dan tepaken berbuah. Sedih membayangkan ia akan kehilangan hari menyantap patin dan saluang goreng, juhu singkah dan kelakai, serta sambal balacan umai.

Turiana namanya. Ia terhujam, merasa sedih, marah dan tidak berdaya. Tangannya bergetar rmembaca kembali lembar rancangan aturan itu. Dan hatinya makin terkoyak.

"Apakah aku tidak akan lagi diakui sebagai Dayak jika negara tidak mengakuinya?" Bagaimana bisa adat dipangkas menjadi administrasi semata? Bagaimana bisa nantinya menentukan sukuku adalah Dayak, adatku menjadi ada, dengan sehelai kertas ?

Turiana namanya. Dan ia masih duduk merenung dalam diam dan tanya.

Catatan belakang:

1. Refleksi ini ditulis sebagai catatan atas Rancangan Undang Undang (RUU) masyarakat hukum adat yang sekarang sedang dipersiapkan. Banyak yang menilai RUU ini mengabaikan berbagai hak mendasar yang ada dan melekat di masyarakat adat. Eksistensi dan keberadaan masyarakat adat kemudian ditentukan dan ditetapkan oleh serangkaian proses administratif legal, yang bahkan dalam prosesnya masyarakat lebih ditempatkan pada posisi pasif dan "diobyekkan". Jatuhnya jadi mirip seperti proses mengeluarkan ijin atau akses legal terhadap suatu usulan. 

2. Tamanggung adalah pemimpin suku di wilayah tertentu atau di sebuah betang (rumah panjang khas Dayak).

3. Lewu adalah bahasa Dayak Ngaju untuk kampung atau wilayah tertentu suatu suku.

4. Dayak Ngaju adalah suku Dayak terbesar di Kalimantan Tengah.

5. Bue dan Tambi adalah sebutan Dayak Ngaju untuk kakek dan nenek. Buyut adalah ayah atau ibu dari kakek atau nenek. Sementara Umai adalah panggilan untuk ibu.

6. Pasir gosong adalah pasir yang menyembul dan muncul menyerupai daratan kecil di sungai. Ini terjadi saat musim kemarau yang menjadikan sungai dangkal.

7. Hambaruan berarti hati nurani atau perasaan.

8. Kasturi adalah buah endemik yang paling terkenal di Kalimantan Tengah dan sekitarnya. Sekarang buah ini ternasuk langka. Kasturi menyerupai mangga kecil berbentuk bulat sedikit lonjong. Besarnya tidak lebih dari kepalan tangan anak kecil. Buah ini sangat manis, beraroma wangi dan memiliki serat. Jika matang, warna kulitnya bercampur merah marun kecoklatan.

9. Tepaken adalah juga buah endemik di Kalimantan Tengah dan sekitarnya. Bentuknya menyerupai durian. Isinya berwarna kuning cerah tembaga dan rasanya manis, tidak menyerupai rasa durian pada umumnya.

10. Patin dan saluang adalah ikan air tawar di sungai-sungai di Kalimantan. Khusus saluang, ikan ini bentuknya kecil. Tidak lebih dari ukuran jari kelingking. Dua jenis ikan ini biasanya digoreng. Bertambah sedap jika dimakan bersama sambal acan atau balacan, yakni sejenis sambal terasi.

11. Juhu adalah nama Dayak Ngaju untuk masakan sayur berkuah. Singkah adalah rotan muda yang bisa dibuat menjadi sayur santan. Rasanya agak pahit. Sementara kelakai adalah sejenis tanaman pakis atau paku yang banyak tumbuh di sekitar pinggir kali atau pinggir perairan gambut di Kalimantan Tengah. Tanaman ini berwarna hijau kemerahan ungu.