Totalitas Tanpa Batas! Mahasiswa Purwokerto Viral Ikuti Sidang Tugas Akhir Pakai Kostum Black Metal
By Admin

Tangkapan Layar Ig
nusakini.com, Purwokerto, 11 Juli 2026 – Jagat maya baru-baru ini dihebohkan oleh aksi antimainstream seorang mahasiswa Universitas Telkom Purwokerto. Alih-alih mengenakan kemeja putih dan celana kain hitam formal seperti peserta sidang pada umumnya, mahasiswa bernama Ragatama Ar-Rauf Rahmaputra ini sukses mencuri perhatian netizen setelah maju ke ruang sidang Tugas Akhir (TA) dengan mengenakan kostum serba hitam lengkap dengan riasan wajah pekat khas musisi black metal (corpse paint).
Foto dan video momen langka tersebut mendadak viral di berbagai platform media sosial sejak Kamis (9/7/2026), setelah diunggah ulang oleh akun Instagram resmi band black metal legendaris asal Banyumas, @santetofficial, serta berbagai akun komunitas musik cadas lainnya.
Usut punya usut, penampilan nyentrik mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) ini bukan sekadar aksi nekat mencari sensasi, melainkan bagian dari totalitas akademik yang berawal dari tantangan dosen pembimbingnya sendiri. Sang dosen menantang Raga untuk tampil total mengenakan atribut black metal saat sidang jika ingin skripsinya disetujui (ACC).
Menariknya, kostum tersebut ternyata sangat relevan dengan karya ilmiah yang sedang ia pertahankan di hadapan dewan penguji. Raga menyusun Tugas Akhir yang berjudul "Perancangan Buku Komik Dokumenter Perjalanan Band Santet sebagai Artefak Visual", sebuah karya yang mendokumentasikan sejarah salah satu pelopor musik ekstrem di wilayah Banyumas.
Alih-alih memicu ketegangan atau dinilai tidak sopan, atmosfer di ruang sidang justru mencair dan penuh tawa. Para dosen penguji menyambut Raga dengan sangat suportif. Bahkan, dalam salah satu potongan video yang viral, Raga sempat diminta oleh dosen pengujinya untuk menyanyikan satu bait lagu bertempo cepat khas black metal di tengah-tengah pemaparan presentasinya.
Aksi Raga menuai gelombang respons positif dari netizen. Banyak yang mengapresiasi kebebasan akademik serta kedekatan hubungan yang suportif dan tidak kaku antara dosen dan mahasiswa di kampus tersebut. Fenomena ini membuktikan bahwa ruang sidang akademik tidak selamanya harus menegangkan, melainkan bisa menjadi wadah ekspresi kreativitas yang bertanggung jawab dan menyenangkan. (*)