Sebelas Huruf di Ambang Pintu Michigan
By Admin

Bill Clinton dan Abdul El-Sayed Tahun 2007
nusakini.com, Jubah hitam berdesir pelan di antara barisan kursi lipat di lapangan Universitas Michigan. Udara tahun 2007 terasa hangat. Abdul El-Sayed muda baru saja turun dari mimbar kelulusan, tangannya masih menggenggam erat gulungan pidato yang ujungnya sedikit lecek oleh keringat. Di tengah keriuhan ribuan sarjana yang bersiap merayakan masa depan, seorang pria berpostur jangkung dengan rambut perak menghampirinya. Bill Clinton.
Mantan presiden yang hari itu memberikan pidato utama menatap lurus ke arah Abdul. Ia mengulurkan tangan, menjabatnya dengan mantap, dan menyarankan pemuda itu untuk memikirkan secara serius jalur pelayanan publik.
Abdul tersenyum tipis. Ia merespons dengan lelucon yang meluncur terlalu cepat, seolah itu adalah sebuah tameng pelindung.
"Nama saya terdiri dari sebelas huruf," katanya. "Dan itu baru nama depan saya."
Tawa renyah memecah kecanggungan di antara mereka. Namun, di bawah permukaan humor tersebut tersembunyi sebuah kalkulasi yang jauh lebih gelap. Sebagai pemuda dengan nama lengkap Abdulrahman Mohamed El-Sayed, ia tahu persis beban dari setiap suku katanya. Di sebuah negara yang masih gelisah di bawah bayang-bayang tragedi 11 September, nama seperti miliknya adalah jangkar yang menahan laju di perairan politik. Jas putih dokter atau mikroskop di laboratorium sains tampak seperti pelabuhan yang aman. Namun panggung politik? Itu terasa seperti tanah tak bertuan.
Namun sore itu, Clinton rupanya mampu melihat menembus kecemasan sang pemuda. Ia melihat karisma, kemampuan memimpin, dan sesuatu yang belum berani diyakini oleh Abdul sendiri.
Hampir dua puluh tahun berlalu.
Hari ini, angin dingin Michigan meniupkan sisa-sisa daun kering ke trotoar jalan raya, menyapu papan-papan kampanye yang bertuliskan nama yang sama. Pria yang dulu merasa namanya terlalu panjang itu kini memenangkan nominasi Partai Demokrat untuk Senat Amerika Serikat.
Jarak di antara kedua momen itu tidak tercipta karena Amerika tiba-tiba berubah menjadi utopia, di mana asal-usul dan agama tak lagi menjadi lensa penilai. Batas-batas itu jelas masih ada. Namun, kemajuan jarang sekali ditandai dengan runtuhnya semua tembok dalam semalam. Seringkali, kemajuan hanya berarti hal-hal yang dulunya nyaris tak terbayangkan, perlahan-lahan menampakkan wujudnya.
Terkadang, sejarah pribadi berbelok hanya karena seseorang melihat sesuatu di dalam diri kita sebelum kita sendiri sanggup melihatnya. Seperti seorang mentor yang menatap tembok keraguan kita dan bertanya pelan, "Kenapa tidak?"
Sebagian besar percakapan semacam itu menguap di udara, tak pernah tercatat sejarah. Namun, beberapa kata menempel keras kepala, terbawa selama dua dekade, dan diam-diam mengubah orbit kehidupan seseorang.
Di ruang tim kampanyenya yang bising oleh dering telepon dan aroma kopi pekat yang sudah terlalu lama dipanaskan, Abdul berdiri sejenak. Ia merapikan kerah jasnya. Seseorang di ujung ruangan membukakan pintu kaca untuknya. Ia melangkah keluar, bukan lagi sebagai pemuda yang cemas akan asingnya sebuah nama, melainkan sebagai pria yang akhirnya percaya bahwa di balik pintu itulah ia pantas berada. (*)