Saat Krisis Iklim Merangsek Masuk ke Dapur Kelompok Rentan
By Admin

Ilustrasi
nusakini.com, Perubahan iklim kini tidak sekadar memicu anomali cuaca di udara, melainkan telah merangsek langsung ke dalam urusan periuk nasi masyarakat kecil. Belakangan ini, kelompok pekerja informal seperti pengemudi transportasi daring hingga nelayan harus memutar otak lebih keras demi menyambung napas kehidupan sehari-hari.
Tekanan ongkos hidup yang kian mencekik memaksa sebagian besar keluarga untuk menekan berbagai pengeluaran bulanan yang dianggap bukan prioritas utama. Temuan terbaru dari lembaga kampanye lingkungan mencatat bahwa fenomena ini berdampak langsung pada tergerusnya daya beli serta pendapatan harian masyarakat kelas bawah.
Di tengah proses adaptasi mandiri dari rentetan dampak cuaca ekstrem, tidak sedikit warga yang akhirnya memutuskan menanam kebutuhan pokok sendiri di pekarangan rumah. Langkah bertahan hidup ini terbukti mampu menghemat pengeluaran dapur, meski beban perlindungan terhadap lingkungan sepenuhnya ditanggung secara sepihak oleh keringat rakyat.
Sebagian masyarakat lainnya terpaksa mencari sumber penghasilan tambahan atau membuka rintisan usaha baru demi menutupi lonjakan harga pangan yang terus mendaki. Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia, Jeanny Sirait, menegaskan bahwa krisis lingkungan secara riil telah mengancam jaring pengaman finansial yang dimiliki warga.
"Dampaknya paling berat dirasakan oleh kelompok pekerja yang hidup dalam kerentanan ekonomi," tutur Jeanny saat menyoroti beban ganda yang terpaksa dipikul publik. Realitas pahit di tingkat tapak ini dinilai sangat bertolak belakang dengan gemerlap janji pemangku kebijakan terkait penciptaan jutaan lapangan kerja baru.
Ketika deretan angka makroekonomi secara formal diklaim menunjukkan tren positif tertinggi belasan tahun terakhir, tenaga warga di akar rumput justru semakin deras terkuras. Ketua Tim Kampanye Sosial dan Ekonomi Greenpeace Indonesia, Atha Rasyadi, secara retoris menggugat siapa pihak yang sebenarnya menikmati hasil dari perputaran roda ekonomi berbasis eksploitasi tersebut.
"Presiden mengklaim bahwa angka ini adalah angka pertumbuhan ekonomi tertinggi dalam 13 tahun terakhir, tetapi siapa yang benar-benar menikmati hasilnya?" tanya Atha secara terbuka. Ia menyoroti tajam ironi pembangunan nasional ketika warga terpaksa berjuang sendirian menahan lapar tanpa adanya tameng perlindungan yang memadai dari negara. (*)