Oleh : Wahyu Purnama Sidi

nusakini.com - Rabiah adawiyah adalah tokoh sufi wanita yg mengajarkan konsep cinta (al-hub) dalam bertuhan. Baginya ibadah bukan karena berharap surga dan takut neraka. Konon, ia pernah berlari keliling kota Basrah sambil membawa api untuk membakar surga. Menurut cerita ia sudah sampai pada tahap ekstasi dalam bertuhan. Hidupnya hanya untuk mengabdi kepada-NYA. Ia tidak butuh imbalan surga dalam menyembah-NYA. 

Entahlah, apakah itu fakta atau fiksi yg dibuat untuk glorifikasi para tokoh sufi luar negri. Perlu kerja keras untuk memverifikasi karena belum tentu cerita seperti itu benar-benar terjadi. Namun yg jelas khazanah Nusantara kita sudah terlalu ramai oleh banyak kisah tentang para tokoh sufi luar negeri yg perlu diverifikasi lebih teliti.

Padahal kita di Nusantara ini sebenarnya juga memiliki banyak tokoh "sufi" dengan konsep ajaran yg tidak kalah canggih dengan para tokoh sufi luar negri. Penampilan lahirnya memang tidak menunjukkan siapa mereka sesungguhnya. Yang lelaki tidak memakai pakaian khas para sufi dengan jubah dan udeng-udeng import. Dan Yg wanita tidak menutup wajah cantiknya dengan cadar seperti para selebritis yg baru sadar agama. Namun suluk dan lakunya menunjukkan sejatinya merekalah para sufi dalam makna yg sesungguhnya.

Hal itu menunjukkan watak dan budaya asli Nusantara kita. Andab ashor. Tawadhuk. Rendah hati. Tidak menonjolkan diri. Yang adalah laku salik sejati. Namun sayang posisi mereka di masyarakat dirampas oleh para sufi import yg mementingkan penampilan fisik daripada suluk sejati. Saatnya kita mengenali ajaran atau kaweruh para sufi Nusantara .

Adalah ibu Ida Sekar Kinasih di antara sufi Nusantara yg patut disimak, dipelajari, dan diikuti kaweruh-kaweruhnya. Sosoknya patut disebut sebagai salahsatu sufi Nusantara. Latarbelakang nya sebagai pengusaha wanita yg ulet tidak lantas melupakan jati dirinya sebagai hamba Tuhan yang harus ngabekti kepada-NYA dalam Mewayu Hayuning Bawana dalam suluk Sangkan paraning dumadi.

Bila seseorang dikenal sebagai sufi salahsatunya karena konsep dan ajaran ketuhanan yang ia yakini. Maka sosoknya termasuk ke dalam kelompok ini. Dan bila seseorang juga dianggap tokoh sufi karena memiliki banyak murid yg mengikuti, maka sosoknya pun memiliki banyak murid yg selalu menanti kaweruhnya untuk diikuti. Dan bila disandingkan dengan para Mursyid thariqah baik yg muktabarah maupun yg ghairu muktabarah, sosoknya pun lebih mumpuni. Oleh karena itu sosoknya pantas disebut sebagai Rabiah Adawiyah Nusantara.

Suluk Hening Sambung Rasa

Bila para sufi/tokoh thariqah memiliki amalan-amalan tertentu untuk wushul/sampai kepada Allah. Bunda Ida, demikian para murid memanggilnya, pun memilikinya. Yaitu Meditasi Spritual Nusantara dengan hening sambung rasa (MHSR) untuk sampai pada Sang Maha Pencipta. Yaitu sebuah metode meditasi yg menitik beratkan doa untuk para leluhur Nusantara dan juga berwasilah pada leluhur Nusantara, juga termasuk para pahlawan nasional kita.

Dengan motto suwung gung liwang-liwung, MHSR mengajarkan inti tasawuf Nusantara yaitu suwung. Suwung artinya kosong. Kosong dari semua pikiran sebagai hasil dari pengendalian diri dan menjaga kesadaran sejati akan diri yg berkaitan dengan ketuhanan. 

Dalam hal ini, suwung gung liwang liwung adalah pencapaian tertinggi dan merupakan tujuan akhir dari sebuah hening yg dilakukan secara intens. Karena di situlah hakekat ketuhanan bersemayam. 

Bila jiwa dan pikiran kita sudah suwung/kosong dari yg selain-NYA. Maka DIA menjadi mulut kita yg berbicara. Menjadi mata kita yg melihat. Menjadi telinga kita yg mendengar. Menjadi tangan kita yg berbuat. Menjadi kaki kita yg melangkah. 

Jadi Suwung Gung Liwang liwung adalah kosong tapi ada. Ada tapi kosong. Kosong dari segala selain DIA. Karena DIA hanya dapat dirasa kehadiran-NYA tanpa menempati tempat khusus di dalam raga.

Saat itu kita adalah manivestasi sifat ketuhanan dalam berbakti dan menjalankan fungsi hamba Tuhan yg, dalam bahasa arab, Rahmatan Lil Alamin. Dan dalam bahasa jawa, Ngabekti Memayu Hayuning Bawana..

Ternyata ajaran leluhur Nusantara juga memiliki landasan filosofis yg sama dengan ajaran agama Nabi Muhammad. Apa mungkin leluhur Nabi Muhammad berasal dari Nusantara? Bukankah beliau bukan Arab Aseli? Bukan dari kaum Aribah (Arab aseli) tapi dari kaum musta'ribah (yg diarabkan/Arab campuran/indo Arab). Meminjam bahasa orde baru, beliau adalah warga negara Arab keturunan, dan bukan warga negara Arab aseli. Sama seperti Ahok, sebagai WNI keturunan. Bukan WNI aseli..


To be continued...