Pertama di Indonesia, Pabrik Bahan Baku yang Hasilkan 2000 Ton Garam Farmasi.

By Admin

Hendro Tri Pancoro, Manajer Pengembangan Bisnis PT Kimia Farma, menjelaskan alur produksi pengolahan garam farmasi kepada Kepala BPPT Unggul Priyanto dan Menteri Ristek dan Dikti M. Nasir beserta rombongan di depan Pabrik Garam Farmasi, Watudakon, Jumat (28-10-2016). SAS/HUMAS Photo

nusakini.com - Hingga tahun 2015 ini, Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang di dunia masih saja harus mengimpor 100% garam farmasi. Lebih dari 4 juta ton per tahun garam farmasi masuk ke dalam negeri guna memenuhi kebutuhan industri obat.

Dimulai sejak tahun 1994 hingga akhirnya mendapatkan paten di tahun 2010, kegiatan kerekayasaan BPPT dalam menghasilkan garam farmasi yang memiliki kandungan lokal, berbuah manis dengan di tandatanganinya kerjasama bersama PT Kimia Farma di tahun 2014.

“Dua tahun yang lalu Saya ke sini (Watudakon) masih berupa tanah merah, dan sekarang sudah berdiri megah pabrik garam farmasi dengan kapasitas produksi 2.000 ton per tahun. Ini adalah hasil hasil kerja keras tim garam farmasi BPPT dan PT Kimia Farma untuk menghasilkan garam farmasi dengan tingkat kandungan dalam negerinya mencapai 99 persen," ujar Kepala BPPT Unggul Priyanto dalam kunjungan kerja di PT Kimia Farma Watudakon bersama Menteri Ristek Dikti M. Nasir, Jumat (28/10/2016).

Unggul menambahkan, bahan baku yang dipakai dalam menghasilkan garam farmasi berasal dari garam rakyat. Berkat inovasi teknologi yang dihasilkan BPPT, garam rakyat yang awalnya sangat rendah harganya, menjadi berlipat.

"Berkat teknologi, garam yang awalnya hanya dihargai Rp 200 sekarang bisa menjadi Rp 20.000 per kilogramnya. Ini merupakan tujuan utama BPPT dalam menghasilkan inovasi yang dapat dirasakan manfaatnya baik oleh masyarakat maupun industri," jelas Unggul.

Hal senada juga disampaikan Menteri Ristek dan Dikti, M Nasir. Menurutnya, hal semacam inilah yang harusnya senantiasa muncul. Dimana inovasi bertemu dengan industri dan menghasilkan sesuatu untuk bangsa.

"Saya sangat mengapresiasi kerja keras BPPT atas inovasinya dalam teknologi pengolahan garam rakyat menjadi garam farmasi dan juga kepada PT Kimia Farma yang telah memanfaatkan inovasi anak negeri ini. Dengan adanya ini, ketergantungan Indonesia akan garam farmasi akan berkurang," terang Nasir.

Sementara itu, Direktur Supply Chain PT Kimia Farma Jisman Siagian, mengungkapkan bahwa saat ini kapasitas produksi garam farmasi di PT Kimia Farma baru mencapai 30 persen dari total kebutuhan garam farmasi nasional. Namun, momentum pendirian pabrik garam farmasi ini patut dicatat dalam sejarah industri farmasi karena merupakan pabrik bahan baku obat pertama di Indonesia yang memenuhi persyaratan Cara Pembuatan Obat dan Bahan Baku Aktif Obat yang Baik (CPOBBAOB) sebagaimana dipersyaratkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.

“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada BPPT sebagai pemerkasa, dan kepada seluruh tim dari PT Kimia Farma yang telah mewujudkan terbangunnya Pabrik Garam Farmasi dengan kapasitas produksi 2.000 ton per tahun pada tahun ini. Saat ini juga kami sedang menyiapkan pabrik garam farmasi 2 dengan kapasitas produksi sebanyak 4.000 ton per tahun, bersebelahan dengan pabrik yang ada saat ini. Kami yakin dengan adanya sinergi antara BPPT dan PT Kimua Farma, kebutuhan garam farmasi dalam negeri kedepannya bisa dipenuhi dan tidak bergantung kepada impor lagi," tandas Jisman. (p/mk)