Penjualan H&M di Cina Menurun Setelah Menyatakan Boikot Xinjiang

By Nad

nusakini.com - Internasional - Brand fashion asal Swedia, H&M melihat penurunan penjualan di Cina, berbulan-bulan setelah merek ini diboikot oleh warga Cina.

H&M adalah salah satu dari beberapa brand yang menyatakan kekhawatiran mereka mengenai pelanggaran hak asasi manusia umat Muslim Uyghur di provinsi Xinjiang, Cina.

Pernyataan ini menimbulkan amarah warga Cina, termasuk para selebriti. Selebriti Cina akhirnya memutuskan hubungan dengan produk-produk H&M yang biasa digunakan sebagai sponsor pakaian mereka.

Penurunan penjualan ini terus berlanjut walaupun profit H&M sedang naik setelah peraturan pandemi mulai diringankan. Penjualan di Cina dicatat mengambil 5% bagian dari total penjualan H&M di seluruh dunia pada tahun 2020.

Penjualan H&M di Cina dikabarkan turun hingga 23% pada kuartal kedua 2021 jika dibandingkan dengan waktu yang sama pada tahun lalu.

Helena Helmersson, ketua pelaksana H&M, menyatakan situasi penjualan dengan Cina adalah hal yang 'kompleks'.

Pada bulan Maret, H&M dihapus dari situs belanja online Cina, Tmall dan beberapa aplikasi belanja online buatan Cina lainnya setelah mereka menunjukkan kekhawatiran mereka terhadap sistem kerja paksa Uyghur untuk memproduksi kapas.

Namun H&M kemudian menyatakan pada bulan yang sama bahwa mereka berdedikasi untuk mendapatkan kembali kepercayaan pembeli dan mitra di Cina, mereka juga menekankan bahwa komitmen mereka di Cina tetap kuat.

Minggu lalu, boss Nike, salah satu brand yang diboikot di Cina, berusaha melindungi bisnis tersebut di Cina. John Danahoe menyatakan bahwa Nike adalah brand tentang Cina dan untuk Cina sebagai respon dari pertanyaan mengenai kompetisi dengan brand Cina.