Di Gang Sempit Bantarjati, Yantie Rachim Mengetuk Pintu-Pintu yang Nyaris Sunyi
By Admin
Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bogor, Yantie Rachim
nusakini.com, Pagi itu gang kecil di RW 09 Kelurahan Bantarjati belum benar-benar ramai. Hanya suara sendok beradu dengan mangkuk dari dapur warga dan derit roda sepeda anak-anak yang sesekali melintas di jalan sempit. Di ujung gang, Posyandu Flamboyan mulai dipenuhi ibu-ibu yang menggendong balita. Sebagian lain duduk berdekatan sambil menunggu giliran pemeriksaan kesehatan.
Di tengah antrean itu, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bogor, Yantie Rachim, datang tanpa banyak jarak dengan warga. Ia berjalan pelan menyapa satu per satu ibu yang membawa anak mereka. Sesekali ia berhenti, menunduk, lalu berbicara dengan balita yang masih malu-malu bersembunyi di balik pelukan ibunya.
Di meja pelayanan, makanan bergizi dibagikan setelah pemeriksaan selesai. Bagi sebagian warga, makanan itu mungkin tampak sederhana. Tetapi bagi para ibu di kampung itu, ada rasa tenang yang ikut dibawa pulang.
Mereka mulai merasa anak-anaknya lebih teratur makan. Ada yang mengaku kini tidak terlalu khawatir lagi karena anaknya tidak lagi sering membeli jajanan sembarangan di luar rumah. Di mata para ibu itu, perhatian kecil kadang terasa lebih penting daripada pidato panjang tentang kesehatan.
Yantie tidak hanya berhenti di ruang posyandu. Dari bangku pemeriksaan balita, langkahnya berlanjut memasuki lorong-lorong permukiman warga. Ia menuju rumah seorang lansia yang belakangan ini kesehatannya terus menurun.
Rumah Nenek Acih berdiri sederhana di sela permukiman padat. Di dalam rumah yang remang dan sunyi itu, perempuan lanjut usia tersebut lebih banyak terbaring karena tubuhnya tidak lagi kuat berjalan.
Yantie duduk mendekat. Tidak tergesa. Tidak sekadar menyerahkan bantuan.
Percakapan berlangsung pelan, seperti keluarga yang lama tidak berjumpa. Sesekali tangan renta Nenek Acih digenggam erat. Di ruangan kecil itu, perhatian tampak hadir dalam bentuk yang paling sederhana: mendengar.
Kasur dan sembako diserahkan untuk membantu kebutuhan harian. Pemerintah daerah juga disebut tengah mengupayakan bantuan kursi roda dan perbaikan rumah melalui program Rumah Tidak Layak Huni.
Namun pagi itu, yang paling terasa bukanlah bantuan yang dibawa. Melainkan kehadiran seseorang yang datang mengetuk pintu rumah warga yang nyaris sunyi dari kunjungan.
Di kampung-kampung kecil seperti itu, perhatian sering kali datang bukan lewat angka statistik, melainkan dari langkah kaki yang bersedia masuk ke gang sempit, duduk di lantai rumah warga, lalu mendengar cerita mereka sampai selesai. (*)