Bayang-Bayang Kosong di Balik Jas Sang Wakil Presiden

By Admin


Gibran Rakabuming Raka | Dok. KPU

nusakini.com, Selama bertahun-tahun, ada semacam bisikan ganjil yang mengiringi langkah Gibran Rakabuming Raka—sebuah keraguan melankolis yang menggantung di atas karier politiknya bak kabut tebal yang tak mau menyingkir. Bukan tentang visi besar yang kerap ia pidatokan di mimbar, melainkan tentang selembar kertas kredensial yang tak pernah benar-benar mewujud dalam kenyataan.

Ketika Mahkamah Agung pada akhirnya mengetukkan palu pekan ini, bunyinya merobek keheningan artifisial yang selama ini dijaga begitu rapi oleh benteng kekuasaan. Pembatalan status ijazah itu bukanlah sekadar vonis administratif yang dingin, melainkan sebuah telanjang bulatnya fakta yang membenarkan sinisme publik yang selama ini diperlakukan bagai angin lalu.

Pengamat Komunikasi Politik, Ambang Priyonggo, melihat ironi ini sebagai sebuah teater usang di mana suara parau jalanan akhirnya berhasil menembus ruang kedap suara para elit. "Sejak masa pencalonan Gibran sebagai wapres suara kritis publik itu cukup keras, tetapi tidak ada hasilnya," ujar Ambang merekam keputusasaan yang kini menemukan muaranya.

Rakyat yang selama ini dipaksa menjadi penonton pasif dalam lakon suksesi sang ayah, kini menemukan palagan perlawanan mereka sendiri melalui ketukan palu keadilan warga sipil. Kemenangan sunyi di meja hijau ini membuktikan bahwa gugatan terhadap arogansi kekuasaan tidak harus selalu menunggu sisa-sisa keberanian dari para politikus di Senayan.

Pakar Hukum Tata Negara, Titi Anggraini, membedah krisis ini dengan ketajaman seorang akademisi yang tampak sudah terlalu jengah melihat akrobat manipulasi konstitusi. "Bahwa pemilu itu bukan soal tradisi lima tahunan, tetapi juga harus kita pastikan dan kawal betul prosesnya dengan benar," tutur Titi memperingatkan fondasi rapuh negara.

Kini, beban dari kehampaan moral sang wakil presiden itu berpindah sepenuhnya ke atas karpet-karpet tebal di dalam gedung parlemen. Para elit partai kini berdiri canggung menimbang kompromi, dihadapkan pada pilihan mutlak sejarah untuk mengakhiri teater absurd ini atau justru mati-matian memelihara sang duri dalam daging. (*)