Aceh Terus Genjot Produksi Padi Melalui Terobosan IP 300

By Ahmad Rajendra


Nusakini.com--Aceh--Aceh merupakan salah satu provinsi yang telah berhasil memproduksi padi untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat di wilayahnya, bahkan surplus beras yang terjadi di Aceh membuat Provinsi tersebut dapat menjual hasil produksi gabah ke provinsi tetangga. “Kita optimis akan terus genjot produksi padi yang dapat berdampak singnifikan pada peningkatkan pendapatan petani, “ ujar Plt Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah MT menyatakan dalam acara Pencanangan Penanaman Cluster Padi Indeks Pertanaman (IP) 300 di Kecamatan Indragiri, Kabupaten Aceh Besar, Propinsi Aceh tadi siang.

Lebih lanjut Nova mengatakan bahwa Aceh tidak hanya fokus di hulu saja yaitu dengan menggenjot produksi di lahan petani saja, tetapi Aceh juga harus dapat menggarap industri hilir karena added value (nilai tambah) keuntungan di hilir jauh lebih besar dibandingkan di hulu. Sebagai contoh saat ini petani Aceh sebagian besar jual gabah dengan harga sekitar Rp 4.500,-/kg padahal kalau dijual dalam bentuk beras harganya jauh lebih tinggi, yaitu sekitar Rp 10.000-11.000,-/kg, apalagi beras premium bisa mencapai Rp 13.000,-/kg. “ Sehingga hal ini menyebabkan petani Aceh hanya mendapat keuntungan sekitar 40% saja sedangkan para middle man dari propinsi tetangga mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar, “ jelas Nova

Pada kesempatan yang sama, Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi mewakili Menteri Pertanian menyatakan bahwa pencanangan penanaman padi IP 300 di Kabupaten Aceh Besar merupakan terobosan yang luar biasa karena program tersebut dapat meningkatkan produksi padi secara signifikan. Pembangunan infrastruktur pertanian berupa bendung di Krueng Aceh dan Krueng Jreu mampu mengairi lahan sawah di Aceh Besar sekitar 29.000 ha termasuk di dalamnya ada yang IP 100 dan IP 200 bahkan hari ini dimulai IP 300 untuka lahan sawah seluas 500 ha, sehingga memberikan komntribusi yang signifikan terhadap hasil padi Propinsi Aceh.

Dedi menambahkan bahwa selain infrastruktur, inovasi teknologi pertanian juga merupakan pengungkit utama produksi padi. Saat ini, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Aceh mulai memperkenalkan varietas Inpari 32 yang mempunyai potensi hasil tinggi sekitar 12 ton/ha GKP; cara tanam jajar legowo, pemupukan berimbang dan lain-lain. “Mekanisasi pertanian berupa penggunaan alsintan seperti traktor roda 4, jarwo transplanter, combine harvester, dan lain-lain mutlak diperlukan untuk mendukung IP 300 agar biaya produksi hemat dan prosesnya berlangsung cepat, “ ujar Dedi

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Propinsi Aceh, A. Hanan SP, MM mengatakan bahwa dengan produktivitas rata-rata sekitar 8 t/ha GKP, harga gabah sekitar Rp 4.500,-/kg, dan IP 300, maka setiap hektar sawah dapat menghasilkan sekitar Rp 108 juta/tahun atau untuk 500 ha dapat hasil sekitar Rp 54 milyar. Tahun depan IP padi 300 akan dikembangkan di 3 Kabupaten lainnya, yaitu di Aceh Barat Daya, Pidie, dan Aceh Utara seluas 2000 ha. “ Dengan demikian maka produksi padi Aceh akan meningkat signifikan dan tentu pendapatan petani juga meningkat, “ pungkas Hanan.(R/Rajendra)