Rawat Indonesia dengan Wajib Mencintai

By Admin


nusakini.com-Surakarta – Mendekati pelaksanaan Pemilu 17 April mendatang, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengajak masyarakat untuk tidak mengumbar emosi dan bisa mempertanggungjawabkan ucapannya. 

Hal itu disampaikannya dalam dialog Dialog Kebangsaan Seri VI “Merawat Harmoni Persatuan”, di Stasiun Balapan Solo, Rabu (20/2). Selain Ganjar, dialog kebangsaan yang merupakan acara ke enam dari sembilan rangkaian dialog dari Merak hingga Banyuwangi selama lima hari yang diinisiasi oleh Mahfud MD tersebut, juga dihadiri tokoh lintas agama, di antaranya Romo Kardinal Julius Darmaatmadja, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Wahid, Ketua PW Muhammadiyah Jateng Muhammad Tafsir, Pengasuh PP Al Muayyad KH M Dian Nafi’, dan Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo. 

Menurut Ganjar, perbaikan bangsa bisa dicapai ketika perbaikan sektor terkecil, yakni di tingkat warganya berhasil. Sementara, Pemilu yang menjadi proses politik lima tahunan, dapat dikatakan sukses melahirkan pemimpin jika seluruh warganya bisa mempertanggungjawabkan pilihannya. 

“Demokrasi pestanya sedang kita laksanakan. Mari belajar bertanggung jawab. Karena kita yang menentukan bangsa ini, bukan calon yang menentukan. Maka calonlah yang kita daulat untuk membawa gerbong Indonesia semakin jaya,” kata Ganjar. 

Di hadapan para tokoh tersebut, Ganjar menitip pesan agar tak lelah menebar suluh kebaikan kepada masyarakat. Gubernur mewanti-wanti masyarakat agar jangan bergaduh dengan sesama anak bangsa. 

“Jangan ngehoaks bicarakan loyalitas lima tahunan ini. Mari kita tata dengan hati pikiran dan perkataan yang baik. Toh kita akan bersalaman lagi, bersilaturahmi lagi sebagai anak bangsa. Kalau ada haters, hoaks, fitnah kita bisa bilang ‘heh sana tabayyun, tanya dulu, klarifikasi’. Yang tidak sesuai diobrolkan. Jangan emosi, jangan ngamuk, jangan bakar-bakaran. Ndeso itu, ora mutu,” kata mantan anggota DPR RI ini. 

Menurut Ganjar, dialog tersebut menjadi salah satu alternatif penyebaran spirit nasionalisme kepada masyarakat menjelang pelaksanaan Pemilu, terlebih dialog dilakukan di pusat keramaian, yaitu stasiun kereta api. 

“Ini bagian cara baru untuk menyosialisasikan kebangsaan dan Pancasila kepada masyarakat dengan cara yang elegan. Momentumnya juga bagus karena kita akan ada perhelatan politik besar. Maka suluh ini akan memberikan cerita pada masyarakat kesatuan dan persatuan kita. Mudah-mudahan masyarakat semakin melek, karena ini PR kita, merawat Indonesia,” katanya. 

Sebagai ketua Gerakan Suluh Indonesia yang sekaligus anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Mahfud MD memang terus bicara lantang soal kemutlakan Pancasila sebagai dasar ideologi negara. Bahkan siapapun yang berupaya mengganti dasar tersebut, akan menemui kegagalan. 

“Kita ingin mengatakan Pancasila sebagai dasar ideologi negara tidak akan tergantikan. Siapa yang akan melawan dia akan kalah. Silakan tengok sejarah. Pancasila itu selalu jadi titik tengah tempat kembali saat ada problem, baik konstitusional resmi, kelembagaan atau apapun,” tukasnya. 

Sementara itu, Romo Kardinal Julius Darmaatmadja mengatakan, mencintai negara adalah kewajiban bagi rakyat. Dia mengisahkan bagaimana pejuang kemerdekaan tidak mempedulikan apa yang akan dia peroleh. Dalam berjuang, hanya satu pedomannya, yakni menjalankan kewajiban.

“Merawat Indonesia itu membutuhkan semangat. Tapi kadang semangat itu luntur karena yang dicintai terlalu jauh. Merasa wajib mencintai adalah cara kita merawat Indonesia,” paparnya. (p/ab)