Pulang Ke Rahim Rindu : Meneteskan Air Mata di Seabad Gontor

By Admin


Oleh : Chef Ronny Noor / Alumnus Gontor Yang Gak Jelas

Food Kitchen Consultant & Coach

nusakini.com, Jauh sebelum angin kering September membawa kepastian tentang perayaan satu abad Gontor—sebuah perhelatan akbar pada 19 hingga 20 September 2026 yang dijadwalkan berada di bawah tatapan langsung Presiden Prabowo Subianto—keraguan telah lebih dulu bermukim di benak saya.

Sebagai seorang pria yang hidupnya terikat pada ritme dapur, saya memandang kemustahilan untuk sekadar menembus batas jarak dan waktu demi menyaksikan detik-detik sejarah itu dengan mata kepala sendiri.

Ingatan saya melesat kembali pada satu dekade silam, tatkala perayaan 90 tahun Gontor dirayakan dalam keanggunan yang sunyi di pesisir utara København, Denmark. Di bawah pelukan angin laut Utara yang dingin, di sebuah villa di Vejby milik mertua, saya pernah berdiri memegang kendali sebagai tuan rumah sekaligus dirigen bagi keluarga besar IKPM Eropa.

Pada hari-hari Skandinavia yang panjang itu, para adik marhalah dari seluruh penjuru Eropa berkumpul, menanggalkan sejenak beban disertasi dan karier mapan mereka di Belanda, Jerman, maupun Belgia demi merajut kembali memori pesantren. Kehadiran Duta Besar RI, Bapak Ibnu Said, menambah khidmat suasana saat aroma daging panggang mengepul ke udara, mengiringi perjalanan melintasi pesisir hingga memandangi kemegahan Istana Elsinor yang membisu bagai tragedi Hamlet.

Namun, waktu adalah arsitek yang kejam, dan menjelang perayaan satu abad ini, kecemasan saya memiliki fondasi yang teramat kuat. Hari-hari saya telah sepenuhnya disita oleh mobilitas tanpa henti sebagai seorang Food Kitchen Consultant & Coach, memaksa saya nyaris menyerah pada pikiran bahwa saya hanya akan menjadi penonton sejarah dari kejauhan.

Takdir, bagaimanapun, memiliki selera humornya sendiri dalam mengatur jadwal manusia. Pelatihan Happy Cooking yang membelenggu akhirnya selesai tepat pada detik-detik penghabisan, dan tanpa sempat merapikan sisa kelelahan, saya menapakkan kaki di tanah suci Kampung Damai Darussalam Gontor pada rentang 18 hingga 20 September 2026.

Meski tak setiap wajah lama sempat tersapa oleh sepasang mata saya yang mulai menua, begitu ujung sepatu ini menyentuh radius tanah wakaf tersebut, sebuah gelombang silaturahmi yang tak terlihat langsung menarik saya ke dalam pusaran. Di sanalah kami—para lelaki dari marhalah ’86, ’87, ’88, Gonsus, ’89, hingga ’90—melebur dalam satu titik nadir kerinduan yang seketika mengabaikan semua batas usia, strata, dan pencapaian.

Memori pesantren adalah pahatan yang terukir abadi di dinding waktu, menolak untuk terkikis meski telah berulang kali dihantam gelombang dekade. Nama-nama mungkin telah memudar dari perpustakaan ingatan, namun wajah-wajah yang dulu kusam, kusut, dan tampak begitu lugu di balik tembok pondok, tetap bertahan sebagai arsip sejarah yang tak terbantahkan.

Bentuk fisik kami kini mungkin telah dikhianati oleh kerutan dan beban hidup, tetapi hakikat tentang siapa kami—jiwa-jiwa yang dulu merayap bersama membelah malam yang sepi—tetap abadi berdenyut di dalam dada. Bertemu kembali setelah lebih dari empat dekade terpisah, membiarkan diri untuk lupa adalah sebuah dosa yang saya haramkan secara mutlak.

“Ah, ente dulu kan insan Al atau Nyut...” teriak seseorang, disusul oleh ledakan tawa lepas yang menggema, karena di tempat ini, topeng-topeng kedewasaan runtuh dan kami semua tahu persis rekam jejak satu sama lain.

Kami saling mengenali di balik julukan-julukan masa silam yang pernah menjadi identitas tak tertulis: Abu Naum, Qismu Tandzif, Qismu Badai, Nyut, hingga Al.

Wadidau, gumam batin saya, menyadari semua gejolak emosi dan tautan masa lalu itu kini tak lagi mengenal garis demarkasi formal. Sekat-sekat yang dulu memenjarakan kami telah rata dengan tanah, menghapus habis jurang pemisah yang dulu begitu sakral dan kontras antara para shighor dan khibar.

Pada masa jayanya aturan itu, shighor dilarang keras bergaul terlampau dekat dengan khibar, kumpulan konsul dibatasi maksimal tiga kepala, larangan berkumpul dalam satu firqoh, dan berbagai protokol besi lainnya mendisiplinkan jiwa kami tanpa kompromi. Namun, di bawah langit seabad Gontor ini, seluruh aturan penat yang membatasi gerak itu telah bertransformasi menjadi butir-butir air mata keharuan yang jatuh tanpa perlu saya sembunyikan.

Kami tak lagi terpisah oleh asrama atau senioritas, melainkan melebur menjadi satu kesatuan organik yang utuh dan bernapas secara kolektif. Tidak ada lagi kekuatan yang mampu mencerai-beraikan jiwa-jiwa yang pernah bersama-sama meneguk kepahitan, kenikmatan, dan keberkahan hidup di bawah naungan Kampung Damai Darussalam Gontor, Ponorogo.

Kini, yang tersisa hanyalah puji syukur tiada terperi dan rasa terima kasih yang teramat dalam kepada seluruh Trimurti pendiri pondok, jajaran guru, dan para kyai tercinta yang telah menanam keikhlasan tanpa batas. Lewat tangan-tangan dingin merekalah, anak-anak lelaki dari masa lalu itu—termasuk saya—berhasil diantarkan menjadi manusia-manusia seutuhnya pada hari ini.

Hanya doa sunyi yang kini sanggup terucap, memohon agar Sang Pencipta senantiasa melimpahkan keberkahan yang tak pernah putus bagi tanah ini.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.