Mimpi Indonesia Akan Kemandirian BBM Bakal Terwujud di Tahun 2023

By Admin


nusakini.com - Direktur Hulu Pertamina Rachmad Hardadi di Jakarta kemarin, Selasa (28/6/2016 ) mengungkapkan, karena konsumsi solar domestik menurun, Pertamina memutuskan mengubah kelebihan produksi solar sepuluh ribu barel per hari tersebut menjadi avtur. 

’’Tahun ini kami tidak impor solar,” kata Direktur Rachmad. 

Kapasitas produksi solar meningkat sejak kembali beroperasinya kilang milik Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) Tuban pada akhir tahun lalu. Selain itu, kilang Residual Fluid Catalytic Cracker (RFCC) di Cilacap mulai beroperasi Agustus tahun lalu. 

Berdasar data Pertamina, penurunan impor solar tahun ini mencapai 2,9 juta barel. 

’’Jumlahnya terus menurun ketika semua kilang selesai dibangun,” terang Hardadi. 

Di sisi lain, konsumsi solar domestik saat ini anjlok karena kewajiban penggunaan biodiesel (B2o). Bahan bakar solar yang saat ini beredar memang tidak 100 persen hasil hidrokarbon. 

Sebanyak 20 persen di antaranya merupakan fame yang dihasilkan industri kelapa sawit. ’’Karena penggunaan biodiesel, produk kami (solar) terdepresiasi,” jelasnya. 

Penurunan konsumsi solar juga disumbang kelesuan industri pertambangan. Karena itu, bila tidak diputuskan untuk diubah menjadi avtur, kelebihan produksi solar sepuluh ribu barel per hari bisa saja diekspor. 

Oleh karena itu Mimpi Indonesia agar mandiri dalam penyediaan energi pun segera terwujud. Saat ini kapasitas produksi solar Pertamina melebihi kebutuhan harian. Kapasitas produksi BBM Pertamina bisa mencapai dua juta kiloliter per hari, setelah pembangunan sejumlah kilang bahan bakar minyak (BBM) selesai pada 2023. 

Di antara total produksi kilang 60 ribu barel per hari, Pertamina mampu menghasilkan solar 50 ribu barel per hari. Artinya, terjadi surplus produksi solar sepuluh ribu barel per hari.(ifm/mk)