MAI Beberkan Perbedaan Biaya Produksi Beras Skala Kecil vs PT IBU

By Admin


nusakini.com - Masalah penggerebakan gudang beras milik PT Indo Beras Unggul (IBU) di Bekasi, beberapa waktu yang lalu yang dilakukan Satgas Pangan Polri jangan dilihat secara parsial, sehingga menimbulkan polemik seperti beberapa hari terakhir ini.

Hal tersebut diungkapkan Anggota Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MAI), Sidi Asmono di Jakarta tadi siang seperti dirilis Biro Humas dan Informasi Publik Kementan.

Menurutnya, secara teoritis, perusahaan sekelas PT IBU dengan teknologi modern, semestinya mampu memproduksi beras lebih efisien. Teknologi canggih mampu memproduksi jauh lebih banyak, lebih berkualitas dan biaya dapat ditekan minimum sehingga lebih efisien dibandingkan yang lain.

Informasi yang diperoleh menyebutkan untuk menjual beras premium PT IBU mengeluarkan biaya produksi 10 persen. “Biaya produksi 10 persen ini bila dihitung dari biaya 10 persen dari output, harga jual label cap ayam jago di Supermarket Rp 20.000 per kilogram. Berarti, biaya produksinya Rp 2.000 per kilogram. Apakah ini efisien dan masuk akal untuk memproduksi beras diperlukan biaya sebanyak itu? Sedangkan bila biaya 10 persen dihitung dari input, harga jual beras petani Rp 7.300 per kilogram. Maka, biaya produksi Rp 730 per kilogram, dan bila dijual Rp 20.000 per kilogram. Apakah harga jual ini wajar?” kata Asmono bertanya-tanya.

Beras premium “hasil racikan” itu, lanjutnya, seolah menjadi mahal karena proses pencampuran berasnya dengan posisi ketersedian beras yang tidak sama. Sebenarnya, disparitas harga gabah antar jenis padi yang menjadi bahan racikan hanya Rp 500 – 1.000 per kilogram gabah kering panen (GKP) dan cara meracikpun tidak perlu canggih, hanya butuh keterampilan saja.

Rasa beras hasil racikan memang lebih enak dan harga tidak terlalu jauh dibandingkan harga beras “monovalen” (beras non racikan). “Beras ‘racikan’ premium masih wajar bila dihargai Rp 10.000 hingga Rp 11.000 per kilogram dan terasa mahal bila dijual sampai Rp 20 ribuan, mengapa ada perusahaan menjual beras premium ‘racikan’ dengan harga tinggi misal Rp 20.000 per kilogram?. Itulah improvisasi tata niaga. Tapi ingat, meraup untung tidak wajar adalah tidak bermoral. Apalagi ini beras merupakan barang pokok dan strategis yang menguasai hajat hidup orang banyak,” ujarnya.

Pada sisi lain, ternyata banyak penggilingan dan pedagang lain memproduksi beras kelas medium dengan harga jual lebih murah dan marjin yang efisien.

“Buktinya, biaya memproduksi beras dari beberapa usaha penggilingan, ternyata relatif murah. Misalnya, Ery Muhtarsyid pemilik penggilingan padi kecil PT. Dinar Mas di Karawang dan juga pelaku pasar di daerah ini mengakui bahwa harga beli gabah dari petani sekarang Rp. 4800 sampai 4900 per kilogram selanjutnya diproses dari gabah ke beras dengan biaya Rp 100 sampai 200 per kilogram, ada nilai konversi dari gabah ke beras dan hasilnya beras dijual pada kisaran Rp. 8600 hingga 9000 (kualitas medium).

Sementara Ermaya, pemilik peggilingan padi CV. Panorama dan PT Bumi Banda Reksa di Subang, Majalengka, Bandung Selatan, Banjar-Ciamis, Jayeng- Sidareja dan di Banjar Negara, Banyumas ini mengatakan bahwa harga gabah yang mereka terapkan untuk pembelian dari petani Rp. 4.400 sampai Rp 5.400 per kg dan dijual beras dengan harga Rp. 9000, Rp. 9200 (medium) dan Rp. 11.200 (premium).

Berdasarkan informasi kedua pelaku usaha penggilingan beras kecil ini, biaya prosesing dan angkutan rata-rata Rp 100 sampai Rp 200/kg. Ini gambaran biaya produksi beras yang lebih efisien yang dilakukan oleh lebih 180 ribu penggilingan kecil dan sedang tersebar di Indonesia. Sementara beberapa gelintir perusahaan “kelas kakap” memproduksi dan menjual dengan harga yang fantastis.

Sekedar informasi buat konsumen, harga jual beras kualitas premium di beberapa lokasi mencapai 20 ribuan per kg. Konsumen yang biasa membeli beras tersebut selama ini tidak sadar harganya termasuk mahal. Padahal semua gabah diproses menjadi beras, baik berasal dari varietas IR 64, Ciherang, Mekongga, Inpari, varietas lokal dan lainnya mempunyai kandungan gizi utama relatif sama yakni lemak 0-0,6%; protein 6-9% dan karbohidrat 70-85%.

Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Subagyo baru baru ini mengungkapkan bahwa bermain di sektor pangan sangat menggiurkan. Sebab, tanpa perlu kerja keras dan hanya main kertas, namun mendapatkan untung besar. “Coba dia kalau membeli gabah kering Rp4.900 per kilogram, tapi dia bisa menjual beras sampai Rp13.000 per kilogram, bahkan Rp20.000 per kilopgram beras premium. Yang diuntungkan siapa?” tanyanya.

Padahal, Firman mengingatkan, para pengusaha nakal tersebut tidak pernah membantu petani, baik dalam memenuhi kebutuhan bercocok tanam hingga penyediaan sarana prasarana infrastruktur. Justru, semuanya dibiayai negara melalui subsidi dan bantuan. (p/ma)