Kepala P3E Sulawesi dan Maluku jadi Pembicara di Simposium Nasional ke 6 Kelautan dan Perikanan

By Ahmad Rajendra


Nusakini.com--Makassar--Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi dan Maluku (P3E SuMa), Jumat, 21 Juni 2019. Beragamnya karakteristik dan besarnya potensi sumberdaya kelautan dan perikanan menjadi salah satu sasaran prioritas pembangunan. Upaya pengembangan sumberdaya kelautan dan perikanan kini terus digalakkan oleh Pemerintah untuk mencapai ketahanan dan kemandirian pangan yang bernilai ekonomi tinggi.

Indonesia dengan potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang melimpah dapat menjadi andalan bagi pencapaian tujuan ke-14 dari tujuan pembangunan berkelanjutan SDGs (Sustainable Development Goals), yakni “melestarikan dan memanfaatkan secara berkelanjutan sumberdaya kelautan dan samudera untuk pembangunan berkelanjutan”.

Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi dan Maluku (P3E Suma) Dr. Ir. Darhamsyah, M.Si., C.Mt dalam Simposium Nasional VI Kelautan dan Perikanan Tahun 2019 menyatakan bahwa ada 2 (dua) isu kontemporer dalam pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan. Yang pertama adalah paradigma tata kelola dimana saat ini masih lebih fokus pada pemerintah padahal private sector dan swasta bisa lebih berperan. Yang kedua adalah masalah keberlanjutan, dimana ada 2 hal yang utama adalah pertumbuhan dan keterbatasan. Kita sadari bahwa pertumbuhan ekonomi cenderung berbenturan dengan ekologi tapi sangat berkaitan karena disatu sisi pertumbuhan ekonomi perlu dilakukan untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat tetapi di lain pihak pertumbuhan ekonomi sedikit banyak akan membawa dampak bagi pelestarian ekologi. Terkait keterbatasan kita tahu bahwa sumber daya alam tidak akan pernah bertambah, sehingga kita wajib melakukan pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan dengan memperhatikan kaidah-kaidah konservasi dan pengelolaan lingkungan hidup untuk masa kini dan nanti.

Oleh karena itu berbagai langkah pengembangan kebijakan dan program kedepan harus betul-betul telah memperhitungkan aspek-aspek lingkungan hidup. Tata kelola kelautan dan perikanan tersebut meliputi aturan, regulasi, penerapan dan institusinya yang membentuk interaksi antara manusia dan lingkungan hidup.

Darhamsyah juga menyampaikan bahwa kita harus bisa mengelola sampah laut dan sampah plastik karena hal ini sangat mencemari lingkungan dan berbahaya bagi kehidupan laut. “Ya, negara kita lautnya cukup luas, dan sampah plastik itu kita rasakan dampaknya sekarang” ujarnya lebih lanjut. 

Simposium nasional dan internasional ini akan berlangsung selama 2 hari dari tanggal 21-22 Juni 2019. Hadir sebagai pembicara dan peserta baik peneliti, praktisi, akademisi, aparatur sipil negara dan mahasiswa dari dalam dan luar negeri.(R/Rajendra)