Kekuatan Rakyat Rebut Kemerdekaan, Modal Indonesia Bersatu

By Abdi Satria


nusakini.com-Semarang – Tantangan-tantangan bangsa Indonesia, terutama pada era milenial seperti sekarang tidak bisa diatasi hanya sekelompok orang. Harus ada persatuan dan kesatuan semua komponen bangsa. 

Hal itu disampaikan anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Mohamad Mahfud MD, saat memaparkan materi pada Seminar Nasional ‘Kompleksitas Ideologi Pancasila di Era Milenial” di Kampus Universitas Semarang (USM), Sabtu (16/3). Hadir pula sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, Ketua Pembina Yayasan Alumni Undip Prof Muladi dan Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono. 

Dalam kesempatan tersebut, juga dilakukan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara Universitas Semarang dengan Ikatan Keluarga Alumni Lemhanas (IKAL) Komisariat Jateng. Penandatanganan dillakukan oleh Sekda Jateng yang sekaligus Ketua IKAL Komisariat Jateng Sri Puryono KS dengan Rektor USM Andy Kridasusila. 

Menurut Mahfud, selain kemiskinan, masih mempunyai banyak tantangan yang dihadapi. “Seperti ketimpangan ekonomi, pendidikan serta persoalan lain yaitu terkait radikalisme, terorisme yang harus diatasi bersama bukan hanya perorangan,” ujarnya. 

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini menjelaskan, saat ini generasi milenial siap mengambil alih kepemimpinan bangsa. Generasi milenial sebagai generasi yang dikuasai secara masif oleh teknologi informasi yang canggih. 

Ia mencontohkan kasus peledakan bom di Sibolga belum lama ini, semua instruksinya melalu telepon seluler. Selain itu di era digitalisasi sekarang, orang akan bepergian jauh tidak perlu repot-repot mencari tiket kendaraan ke tempat pembelian. Berbelanja apapun semakin mudah, bahkan membeli makanan hanya menggunakan telepon seluler. 

Yang tidak kalah penting berkaitan dengan Pancasila, mudahnya generasi bangsa menerima beragam masukan dan materi-materi persoalan melalui media sosial. Kondisi ini menjadi catatan sendiri karena faktanya banyak kasus radikalisme, terorisme, ataupun intoleransi itu berkembang menjadi tantangan di era digitalisasi. 

“Contohnya paham ISIS yang disebar melalui internet. Kemudian membuat orang terpengaruh lalu melakukan hal yang mereka sebut ‘jihad’, melawan ideologi bangsa dan lainnya,” bebernya. 

Mahfud menambahkan, bangsa Indonesia berdiri untuk hidup bersatu, karena cita-cita sama untuk memperhankan NKRI berdasarkan Pancasila. 

“Kita merdeka karena kita ingin maju bersama dan di dalam Pancasila kita bersatu,” tegas Mahfud. 

Ditambahkan, belasan ribu pulau dan ratusan penduduk bisa bersatu. Meskipun latar belakang berbeda, baik keyakinan, suku, maupun ras tidak sama tetapi semua bersatu karena mempunyai tujuan sama, dan sudah bersumpah untuk bersatu pada 28 Oktober 1928 melalui Sumpah Pemuda. 

“Modal Indonesia bersatu karena negara Indonesia merebut kemerdekaan dengan kekuatan rakyat, bukan karena hadiah dari bangsa lain. Indonesia satu-satunya negara di dunia yang mengusir penjajah,” tandasnya. 

Direktur Kemahasiswaan Ditjen Belmawa Kemristekdikti, Dr Didin Wahidin dalam sambutannya mengatakan, seluruh rakyat Indonesia terutama generasi muda harus melangkah bersama untuk mencapai cita-cita, membangun, dan mencerdaskan bangsa. 

Apabila semua sudah memiliki jalan pikiran sama untuk mencapai tujuan yang sama, berbagai kepentingan baik pribadi maupun golongan atau pihak lain yang merupakan komponen bangsa akan terabaikan. Sebab, semua dengan ikhlas dan rela melakukan berbagai hal demi kehidupan berbangsa dan bernegara. 

“Ketika berbicara tentang Pancasila, maka kita akan berbicara tentang tantangan Indonesia ke depan yang tidak ringan,” katanya. 

Era milenial sekarang ini berhubungan dengan usia generasi bangsa yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000. Artinya apa yang dilakukan saat ini akan menentukan apa yang akan terjadi pada bangsa ini dikemudian hari. 

“Seperti kita ketahui dalam upaya mencapai cita-cita besar bangsa Indonesia akan memiliki berbagai tantangan yang harus diatasi bersama,” pungkasnya.(p/ab)