Apa Yang Terjadi di Iran? -Sebuah Kesaksian Langsung-
By Admin

Oleh: Ismail Amin*
Akibat kegagalan menyulut gelombang aksi besar-besaran yang dipicu oleh kenaikan harga bahan pokok dan kesulitan ekonomi, Ali Reza Pahlevi -putra Syah terakhir Iran yang kekuasaannya jauh pada Revolusi Islam Iran tahun 1979- mendorong warga Iran untuk turun jalan pada Kamis malam (8/1). Pukul 20 malam, disejumlah kota dibanyak titik berkumpul disetiap titik 30-50 orang yang mulai berteriak-teriak di jalan mengajak warga untuk turun ke jalan. Tidak mendapat sambutan dan jumlah demonstran yang turun tidak signifikan, para loyalis Syah ini mulai melakukan pengrusakan. Mereka menyerang aparat keamanan, bukan hanya dengan lontaran batu diantara mereka bahkan menembakkan timah panas dari senjata rakitan. Untuk kota Teheran saja sebagaimana dilaporkan walikota Teheran Alireza Zakani, para perusuh telah merusak dua pusat medis, 26 kantor bank, 25 masjid dan husainiyah. Termasuk ada 8 mobil pemadam kebakaran yang turut dibakar. Kerusuhan serupa di malam yang sama juga terjadi di Rasht, Kermansyah, Qazwin dan sejumlah kota lainnya. Untuk Qom yang relatif lebih aman dari kota lainnya, perusuh melakukan penyerangan ke kantor aparat kepolisian, dengan dua aparat keamanan terbunuh.
Badan Intelijen IRGC mengeluarkan pernyataan pada hari Jumat, mengatakan pemantauan intelijen menunjukkan bahwa musuh telah mengubah strateginya melawan Iran dari serangan militer menjadi menciptakan kekacauan dan mengganggu keamanan dan ketertiban negara.
Merespon tindak kekerasan yang dilakukan para perusuh, Jumat pagi (9/1) Ayatullah Ali Khamenei dalam pertemuan dengan ribuan warga Qom di Husainiyah Imam Khomeini di Teheran -dalam rangka memperingati hari kebangkitan warga Qom 19 Dey 1356 yang menandai perlawanan besar-besaran rakyat Iran pada kekuasaan Syah- berkata, "Semalam sejumlah perusuh turun ke jalan, merusak milik mereka sendiri, hanya untuk menyenangkan hati Presiden Amerika." Sekali lagi, tegasnya, cara seperti itu tidak akan berhasil meruntuhkan kepercayaan dan kesetiaan rakyat pada Republik Islam Iran. "Ratusan ribu nyawa berkorban demi memenangkan revolusi Islam, tidak akan mungkin mundur di hadapan pengacau atau menoleransi sikap agen bayaran yang telah bekerja untuk kepentingan asing."
Usai salat Jumat, jutaan warga Iran disemua kota-kota besar Iran menggelar aksi mengecam aksi kekerasan para perusuh dan menyatakan kesetiaan pada Republik Islam Iran. Mereka juga mengutuk AS dan Israel yang secara terbuka mengakui berada di balik para perusuh. Dewan Tinggi Keamanan nasional Iran menyampaikan bahwa para perusuh ini akan kembali melanjutkan upayanya menciptakan ketidakamanan dan kekacauan. Pihak Kepolisian telah mengeluarkan peringatan kepada warga untuk menjaga anak-anak dan remaja, yang disebutkan akan menjadi incaran para agen musuh untuk mencitrakan Iran tidak dalam keadaan aman. Media-media resmi Iran menyebut para perusuh dengan sebutan kelompok teroris. Kepala Kehakiman Tinggi Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei mengingatkan secara tegas, tidak akan ada pengampunan bagi perusuh, dan setiap yang terbukti terlibat akan mendapat hukuman berat.
Inilah fakta yang disembunyikan media internasional terkait insiden pengrusakan di Iran. 100-200 orang yang melakukan pengrusakan fasilitas publik dan properti pribadi warga termasuk menyerang warga sipil dan aparat keamanan tidaklah membawa suara rakyat Iran. Mereka adalah pengacau keamanan yang membawa kepentingan asing dan telah dibayar untuk melakukannya. Suara dan teriakan mereka mengecam rezim ulama di Iran kalah oleh suara jutaan rakyat Iran yang menyatakan masih setia dan memberikan dukungan penuh pada kepemimpinan Ayatullah Ali Khamenei.
Kerusuhan pada malam Jumat di Teheran dan banyak kota lainnya, meskipun telah menimbulkan kerusakan besar namun tidak membuat aktivitas lumpuh. Pembatasan internet dilakukan pemerintah utuk memutus jalur komunikasi para perusuh dan interaksi mereka dengan dinas intelijen asing.
Disaat yang sama, dengan perang hibrida yang diterapkan atas Iran, termasuk perang informasi. Media-media asing anti Iran memberitakan, kekacauan di Iran adalah perlawanan rakyat Iran pada rezim Islam dan menuntut restorasi monarki. Aparat untuk mempertahankan statusquo menembaki para demonstran dan menghentikan unjukrasa dengan kekerasan. Bahkan ada media yang menyebut korban jiwa akibat kekerasan aparat dari para demonstran mencapai 12 ribu orang. Padahal faktanya, korban berjatuhan justru dari pihak aparat dan warga sipil oleh aksi perusuh yang bersenjara. Dan yang lebih konyol menebar rumor, karena siuasi tidak lagi bisa terkendali, Ayatullah Khamenei telah merencanakan kabur ke Moskow bersama keluarga dan kolega dekatnya dengan membawa milyaran dollar aset pribadi. Dengan menampilkan penggalan video kerusuhan dan kekacauan di Iran disertai narasi yang berlebihan, Iran dicitrakan sedang mengalami chaos dan sebentar lagi kolaps. Rezim Islam disebut akan runtuh sebentar lagi, dan perubahan besar akan terjadi di Iran. Narasi palsu yang sangat jauh dengan realitas yang ada.
Secara faktual yang terjadi sampai hari ini di Iran adalah kepemimpinan Ayatullah Ali Khamenei masih kuat, militer masih solid, persatuan nasional rakyat masih utuh dan rakyat Iran masih dengan sangat ideologis memegang semangat anti AS dan anti Zionis. Pada Senin (12/1) jutaan rakyat Iran serentak di seluruh kota besar di Iran turun ke jalan mengecam para perusuh sembari menyatakan dukungan pada Republik Islam Iran dan kesetiaan pada kepimimpinan Ayatullah Sayid Ali Khamenei. Pawai akbar yang mematahkan narasi media-media internasional mengenai Iran.
*WNI masih, sementera menetap di Iran