Agroforestri Cegah Erosi-Sedimentasi Hutan Jati

By Admin


nusakini.com - Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sabtu, 2 Juni 2018. Hutan jati telah mendatangkan pendapatan negara melalui perdagangan kayunya yang bernilai ekonomi tinggi. Selain itu sistem agroforestri jati dengan tanaman pangan maupun empon-empon yang diberlakukan pada pengelolaan hutan jati telah memberikan sumbangsih kepada masyarakat di sekitar hutan.

Pada musim kemarau, daun jati gugur dan tanah terbuka. Jika terjadi pada awal musim penghujan turun hujan, maka tanah yang terbuka tersebut akan mengalami erosi. Tanah hasil erosi pada lahan berlereng akan terangkut oleh limpasan permukaan menuju ke sungai dan menjadi sedimen. Oleh karena itu bahaya erosi - sedimentasi pada Daerah Aliran Sungai (DAS) berhutan jati perlu diwaspadai.

Untuk mengatasi permasalahan erosi tersebut, menurut, tindakan pertama yang perlu dilakukan adalah dengan mencari sumber-sumber erosi - sedimentasi. Disampaikan oleh peneliti pada Balai Litbang Teknologi Pengelolaan DAS (Balitek DAS) Solo, Tyas Mutiara Basuki, sumber erosi-sedimentasi lain yang penting untuk diperhatikan adalah erosi tebing sungai.

"Sedimen terlarut pada sub DAS dengan penutupan hutan jati tua 82% berkisar antara 3 hingga 17 ton/tahun, sedangkan untuk sub DAS dengan penutupan hutan jati tua 53% sedimen terlarut berkisar antara 8 hingga 59 ton/tahun,” jelas Tyas.

Tyas juga mengungkapkan sumber erosi lain dapat berasal dari areal dengan tanaman jati muda yang tajuknya belum rapat melindungi permukaan tanah, erosi pada tampingan teras pada sistem tumpangsari jati dengan tanaman semusim.

Selanjutnya, berdasarkan kondisi biofisik dan sosial ekonomi setempat perlu dilakukan beberapa hal, dimulai dari penanaman tanaman penutup tanah dengan legum yang tahan naungan. "Sebagaimana diketahui, fungsi legum tersebut selain menutup tanah dari pukulan energi kinetik air hujan juga untuk melembabkan tanah sehingga tidak terbakar pada musim kemarau", Tyas menambahkan.

Selain itu, perlu penguatan tamplingan teras dengan batu yang ada di sekitar lokasi atau rumput pada lahan-lahan tumpang sari jati dengan tanaman semusim. Kemudian, penerapan sekat bakar baik yang vegetatif maupun yang struktural serta stabilisasi tebing-tebing sungai yang potensial terjadi erosi dengan metode vegetatif maupun sipil teknis. Selanjutnya perlu stabilisasi lereng untuk mencegah erosi tebing dan longsor serta pengamanan daerah sempadan sungai.

Oleh karena itu, persentase penutupan hutan jati yang tinggi dalam suatu DAS maupun sub DAS perlu diikuti langkah pencegahan untuk menjamin air sungai yang mengalir melalui DAS tersebut bebas dari masalah sedimen terlarut. (p/ma)